Saat istirahat aku mengajak Rafael ke kantin. Tapi dengan halus dia menolak ajakanku. Akhirnya akupun pergi ke kantin bersama temanku Tifa. Aku tak tahu tumben seklai Rafael menolak ajakanku. Biasanya dia gag seperti ini. Perutku yang tadinya lapar tak lagi merasa lapar begitu aku sampai di kantin. Setelah membeli sebotol air mineral aku pun langsung balik ke kelas. Tifa aku tinggalkan saja di kantin. Aku penasaran kenapa sih Rafael ga mau nemenin aku ke kantin, ga bisanya dia begini. Dengan langkah yang cepat aku menuju kelasku di lantai 2, satu demi satu anak tangga ku lalui dengan cepat. Tak peduli napas yang mulai habis, aku harus segera menemui Rafael. Aku terperanjat tepat di depan pintu kelas. Melihat Rafael ngobrol mesra sambil mengusap kepala Laila , anak baru itu. Aku hampiri mereka, dan tanpa babibu aku langsung tarik Rafael. Aku marah , jelas aku marah. Rafael sudah membuat aku marah karena cemburu hari ini. Laila berdiri dan ikut menarik tangan Rafael, ia berusaha menahan Rafael. “Anak baru lepasin ga!” bentakku sambil berusaha melepaskan tangannya dari Rafael. “Gag! Gw ga bakal lepasin!” jawabnya. Anak-anak yang ada di kelas dan yang kebetulan lewat di depan kelasku hanya diam dan melihat kami bertiga. “Heii, lo itu anak baru disini! Gag usah cari masalah deh sama gw!” kataku lagi dengan nada menyindir dan mendorong badan Laila sampai ia terjatuh. Melihat Laila jatuh aku langsung menarik tangan Rafael , tapi Rafael yang tadi hanya diam saja menunjukkan perlawanannya padaku. Ia balik menarikku dan membentakku “Li, kenapa kamu dorong Laila?” tanpa menunggu jawabku Rafael menolong Laila bangun dan membantunya sampai duduk di bangku. “Raf, kamu yang kenapa?” kataku lirih, aku tak yakin apakah Rafael mendengarnya atau ga. Tanpa memedulikan Rafael dan Laila aku berjalan keluar kelas.
Sudah 1 jam aku ada disini, di UKS. Aku tak peduli dengan bel masuk tanda istirahat selesai.
Aku ga mau masuk kelas, karena aku ga mau ketemu Rafael dan Laila. Tifa sudah ku sms supaya dia memberitahu guruku aku sakit dan ada di UKS. Mengingat kejadian tadi, aku pusing dan rasanya mau menangis. Memang sudah sebulan terkahir ini Rafael berubah, dia jarang telepon atau sekedar sms aku, gag pernah lagi ke rumahku, pulang sekolahpun dia lebih suka sendiri, sangat berbeda kalau dibandingkan dengan sebelumnya. Aku gag merasa takut ataupun galau melihat perubahannya, tapi hari ini dia benar-benar membuat aku takut kehilangan dia begitu melihat dia begitu dekat dan mesra bersama Laila. Seandainya saja wanita itu bukan Laila, seorang murid baru yang baru saja masuk sekolah. Tapi mereka berdua bukan seperti orang yang baru saja kenal. Ooh God, tiba-tiba aku berpikir apa mereka sudah saling kenal sebelumnya, dan Rafael berubah sejak dia tahu kalau Laila bakal pindah ke sekolah kami. Kalau memang benar kenapa Rafael ga pernah cerita sama aku? Bukannya selama ini Rafael ga pernah menyembunyikan sesuatu?
Saat aku masih sibuk dengan berbagai analisa , ada yang mengetuk pintu UKS. Dari balik tirai, aku lihat Tifa masuk. “Li, lo masih di dalam?” “iya Fa, masuk!” Tifa duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur. “Li, kenapa?” tanya Tifa lembut. Aku hanya menggelengkan kepala dan tanpa sadar air mataku menetes. Aku sudah berusaha menahan air mataku agar tak tumpah, tapi begitu mendengar suara Tifa yang lembut aku ga kuat menahannya lagi. Dengan terbata-bata aku menceritakan semua yang aku rasakan, air mata terus menetes setiap aku menyebut nama Rafael. “Li, lo positif thinking ajj ya! Jangan berpikiran kaya gini, cuma bikin lo sedih doank!” kata Tifa sambil menghapus air mataku. Aku sedikit lega bisa mengeluarkan semua kesedihanku. Aku terkenal sebagai cewe tomboy di sekolah, prestasiku di bidang bela diri segudang,membuat para cowo takut mendekatiku, jadi takkan ada yang percaya aku menangis saat ini hanya karena cowo. Di mata orang lain aku memang terlihat kuat, hanya di depan Tifa aku bisa leluasa mengeluarkan semua yang aku rasakan.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Tifa membawakan tasku ke UKS dan mengajakku pulang. Waktu aku dan Tifa berjalan menuju parkiran, Rafael dan Laila sudah menungguku disana. Aku pura-pura ga lihat mereka, aku langsung masuk ke mobil Tifa. Tifa berusaha menyuruhku menemui mereka, tapi aku tetap bersikeras. Tifa menyerah dan dia mengemudikan mobilnya meninggalkan mereka yang berusaha menemuiku. Aku langsung berbaring di tempat tidurku begitu aku nyampe di rumah. Aku tertidur karena lelah menangis, padahal aku belum mengganti seragamku. Kalau saja mama ga bangunin aku, aku pasti bakal ketiduran sampe besok pagi. Mama bangunin aku dan menyuruhku mandi karena ada Rafael yang lagi nunggu aku di ruang tamu. Dengan langkah gontai aku masuk kamar mandi, huft kalo aja bukan mama yang bangunin aku dan nyuruh aku ketemu Rafael pasti aku ga bakalan mau deh.
“Mau apa Raf?”Bagai disambar petir di tengah siang bolong aku mendengar kenyataan itu. Aku benar – benar gag percaya sama apa yang aku dengar barusan. Aku cuma bisa diam dan menundukkan kepala, menyembunyikan air mataku yang mulai meleleh.
“Aku mau minta maaf Li!”
“Buat apa?”
“Tifa udah cerita semuanya tadi. Aku akan jelasin tentang Laila!”
“silahkan kalau mau jelasin! Aku ga punya banyak waktu!”
“Maaf aku udah bohongin kamu, aku ga pernah cerita tentang Laila sebelumnya ke kamu.”
“gag usah pake pembukaan segala, kalo mau cerita langsung aja!”
“Intinya Laila itu pacar aku, Li!”
“Li, maafin aku ya!” Rafael memegang tanganku.Aku ga bisa ngomong apa-apa, aku sedih sangat sedih. Rafael satu – satunya cowo yang berani deketin gw, dan akhirnya bisa luluhin hati gw. Cowo yang selama ini gw sayang dengan sepenuh hati gw. Sekarang Rafael sudah menjelma jadi orang yang paling aku benci.
Aku masih diam.
“Lisa, ayo bicara!” kali ini dia menggenggam tanganku lebih kuat.
“Bicara apa Raf ?” kataku dengan tatapan nanar aku melepas tangannya.
“Apa saja Li, asal kamu bisa luapin kemarahan kamu dan maafin aku!”
“Lalu, kenapa kamu masih disini? Laila pasti udah nunggu kamu kan?”“Laila, pacarku waktu aku SMP. Dia langsung ke Perth begitu lulus SMP, tanpa pamit sama aku dia pergi gitu aja. Makanya aku kaget waktu sebulan yang lalu dia tiba-tiba email aku kalo dia mau sekolah di sekolah kita. Ternyata Laila mengidap penyakit pengerasan hati, makanya dia pergi ke Perth untuk berobat. Menurut prediksi dokter penyakitnya bisa membunuh Laila perlahan kalau saja Laila tak mendapatkan donor hati. Orang tua Laila menyuruhku untuk tetap bisa menjadi pacar Laila, supaya Laila semangat menjalani pengobatan. Aku ga bisa menolak permintaan orang tuanya Li!” jelas Rafael.
“Li, aku sangat menyesal udah buat kamu kecewa!”
“Sudahlah, memang nasibku koq!”
“Li, apa kamu mau maafin aku?”
“gag ada satupun kesalahan di dunia ini yang ga bisa dimaafin. Walau sakit aku akan berusaha memaafkan kamu Raf!”
“thanks Li. Aku tahu kamu pasti bisa maafin aku!”
“lalu , Laila ?”
“Kamu memang orang baik! Bahagiakan Laila dan lupakan aku!”Rafael pulang setelah menjelaskan semuanya. Aku yang masih shock massih belum percaya kalau baru saja aku memutuskan hubunganku dengan Rafael. Padahal aku bisa saja menahannya dan tak memedulikan Laila. Toh aku juga ga kenal sama dia. Tapi aku ga mau di bilang sebagai cewe jahat, karena bagaimanapun Laila lebih dulu mendapatkan cinta Rafael daripada aku.
“Lisa, mana mungkin aku bisa lupain kamu? Kalau ternyata aku benar-benar sayang kamu?”
“Kalau kamu sayang aku, lakukan saja semua mauku!”
“Lisa, …”
“Rafael, aku masih bisa bertahan walau tanpa kamu. Tapi Laila ga bisa bertahan tanpa kamu.”
“Baiklah kalau itu maumu!”
***********************************************
Pagi ini aku merasa tak bertenaga untuk sekolah. Meski mama sudah melarangku sekolah aku tetap memaksakan diri untuk sekolah. Aku ga mau membuat Rafael berpikir aku belum bisa melepaskannya. Hari ini aku berangkat sekolah dengan mengendarai monil sedan mama yang sengaja aku pinjam. Aku mengendarai mobil dengan kecepatan rata-rata, seperti pesan mama. Tanpa aku sadari ada sebuah truk besar menghantam mobilku dari arah samping kananku. Ternyata aku melamun dan menerobos lampu merah. Mobilku hancur, apalagi aku. Dengan bersimbah darah aku dilarikan ke rumah sakit terdekat.
“Karena mengalami benturan yang sangat hebat, anak ibu mengalami koma!” begitu kata dokter yang menanganiku, diiringi isak tangis mama disampingku. Meski aku dalam keadaan koma aku mendengar suara mama yang menangis. “Kasihan mama!” bisikku dalam hati. Lalu sayup-sayup kudengar ada suara Tifa dan Rafael. Mereka juga menangis melihat keadaanku. “ahh kenapa mereka juga harus menangis?” bisikku lagi.
Aku melihat ada cahaya putih menyilaukan mataku, apa ini sudah saatnya aku pergi? Aku ingin cepat pergi, meninggalkan rasa sakit yang aku rasakan. Tapi aku tak ingin meninggalkan mama sendiri. Kasihan mama, sejak perceraiannya dengan papa kami hanya tinggal berdua karena Jeremy adikku tinggal dengan papa. Masih terdengar isak tangis mama ditelingaku, mama berusaha membangunkan aku dari koma. Suara tangis Rafael sambil sesekali membisikkan kata maaf, tangannya yang lembut membelai rambutku. Aku berusaha membuka mataku, ingin sekali aku mengatakan pada mama betapa aku menyayanginya. Tapi semakin aku berusaha cahaya putih itu semakin terang, suara – suara yang tadi masih sempat kudengar semakin menghilang.
Gerimis mengiringi air mata kesedihan mama, Rafael, Tifa, dan para pelayat yang datang ke pemakamanku. Ingin rasanya aku memeluk mama yang sedih, tapi aku hanya bisa melihat mama dari jauh tanpa bisa menyentuhnya. Karena kami sudah berbeda dunia sekarang. Setelah satu persatu pelayat meninggalkan makamku. Aku melihat mama memberikan buku harianku pada Rafael dan meninggalkannya di makamku.
Jakarta, 5 mei
Rafael adalah satu-satunya laki-laki yang mampu membuka pintu hatiku. Mencintainya membuat aku bahagia, dan aku takut kehilangannya. Hari ini hal yang paling aku takuti terjadi. Rafael benar – benar meninggalkan aku. Laila , anak baru di sekolahku yang sudah membuat semua ini terjadi. Tapi aku tak menyalahkan Laila dan Rafael sepenuhnya. Laila pasti tak pernah mau memiliki penyakit itu, Rafael juga tak bisa untuk menolak keinginan orang tua Laila. Aku, akan merelakan cintaku pergi.
Tuhan , berikan aku hati yang ikhlas untuk menerima semua ini. Bahagiakan Rafael, karena aku begitu menyayanginya. Seandainya mungkin Tuhan, aku ingin memberikan hatiku untuk Laila. Aku ingin mencintai Rafael, walau dengan wujud Laila. Amin
Chalisa Meigan
Tuhan mengabulkan permintaan terkahirku, aku memberikan hatiku untuk Laila. Aku yakin dengan memberikan hatiku untuk Laila, aku masih bisa mencintai Rafael sampai aku bertemu kembali dengannya disini. Di sorga tempatku sekarang berada. Aku mencintaimu Rafael Alexander.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar