Setahun yang lalu di taman ini aku tak sengaja bertemu dengannya. Tepat pukul 07.30 setiap hari kerja aku bertemu dengannya. Senyumnya yang manis membuat aku mengaguminya, sampai kini setahun berlalu aku masih mengaguminya tanpa sekalipun berani menyapanya dan berkenalan.
Hari ini seperti biasa tepat jam 7.30 aku sudah sampai di taman ini, tapi wajah manisnya belum terlihat. “mungkin dia terlambat!” gumamku sambil duduk di bangku taman bermaksud menunggunya. Sudah 20 menit berlalu belum juga ada tanda-tanda kehadirannya. “Aah mungkin aku yang terlambat!” gumamku seraya aku bergegas meninggalkan taman. Kantorku terletak tepat di seberang taman, sebelum aku menyebrang aku sempat melihat sekeliling taman berharap dirinya ada disini. Dengan setengah berlari aku bergegas menyebrang jalan. Tiba-tiba dari arah kananku mobil melaju dengan kecepatan tinggi, aku kehilangan keseimbangan.
Kepalaku masih sakit saat aku terbangun dari tidurku. Oh tidak aku bukan tertidur, tapi aku pingsan dan aku sekarang ada di rumah sakit. Tangan dan kakiku sudah penuh perban, badanku rasanya sakit semua, aku mencoba melihat sekeliling, mencari seseorang yang bisa kutanya. “jangan dulu terlalu banyak bergerak mba!” suara lelaki secara tiba tiba mengejutkanku. “Mbak tadi terserempet mobil sampai jatuh pingsan. Kata dokter mbak harus banyak istirahat dulu, belum boleh banyak bergerak!” lanjutnya. Lelaki itu sepertinya aku kenal, ya dia lelaki yang aku tunggu setiap pagi ternyata dia yang menolongku dan membawaku ke rumah sakit. “Maas siapa?” tanyaku terbata – bata sambil menahan sakit. “Saya Ragil mbak, kantor kita berdekatan!”. “Mas Ragil gag kerja? Koq masih disini?” “Saya kan yang membawa mbak kesini jadi saya harus disini sampai keluarga mbak ada yang datang!” “Tas saya dimana ?” “Hmmm maaf mbak tadi saya buru-buru membawa mbak kesini, saya gag bawa tas mbak. Begitu sampai disini saya baru ingat lalu saya segera kembali kesana tapi tas mbak sudah ga ada dan tak satupun orang disana yang tahu. Maaf mbak!” jelasnya dengan wajah bersalah. “Saya hanya bisa menunggu mbak sampai sadar biar saya bisa menghubungi keluarga mbak!” “Berapa mbak nomor keluarga mbak?” tanyanya sambil mengeluarkan HPnya. “Keluarga saya di luar kota, cukup hubungi kantor saya saja!” jawabku. “Nomor teleponnya berapa?” “Saya lupa mas!” jawabku malu. “Kalau begitu saya ke kantor mbak saja. Bagaimana?” “Sepertinya itu ide bagus!” “Saya harus bertemu siapa disana mbak?” “Mas Ragil cari yang namanya Radita, bilang sama dia saya disini! Nama saya Wanda.” “OK mbak Wanda, saya tinggal dulu ya!” pamitnya “Terima kasih mas!”
Satu jam kemudian Radita sahabatku datang menemaniku. “Wanda, kamu koq bisa celaka begini?” tanya Radita begitu melihatku. “Aku juga ga tau Dit.” Jawabku asal sambil melihat ke arah pintu. “Dit, Mas Ragil mana?” tanyaku. “Mas Ragil siapa Wan?” tanya Radita heran. “Kamu tau dari siapa aku disini? Dari mas Ragil kan?” “Aku tahu dari Pak Bayu, tukang siomay langganan kita!” “Hah , kamu serius? Mas Ragil itu yang nolong aku!” “Iya aku serius. Masa aku bohong sih? Tadi tuh aku ga liat kamu di kantor, aku coba telpon hp kamu, gag aktif. Aku tanyain satu kantor gag ada yang tahu. Aku coba keluar ke siomay pak Bayu, siapa tahu kamu disana. Pak Bayu bilang kalau tadi abis ada kecelakaan di depan kantor. Korbannya satu cewe satu cowo, dan pak Bayu bilang korban cewenya mirip kamu. Denger kaya gitu aku langsung cari kamu!” “Jadi kamu ga ketemu mas Ragil?” “Gag Wanda!”
Aku bingung, terus bertanya dalam hati kemana perginya mas Ragil? Sejak dia pamit untuk memanggil Radita dia tak kembali lagi. Dokter mengizinkan aku pulang hari ini juga. Dengan dibantu Radita aku mengurus administrasi Rumah Sakit. Rasa penasaranku terhadap sosok Ragil sangat besar, memaksa aku mencari tahu keberadaanya. “Suster, orang yang tadi mengantar saya kesini dimana ya?” tanyaku penasaran. “Tadi yang mengantar banyak mbak dan sudah pada pulang semua!” “Tadi ada satu orang yang jagain saya sampai saya sadar sus, dia bilang mau pergi sebentar tapi gag kembali juga. Saya mau bilang terima kasih sama dia sus!” “Maaf mbak saya gag melihat siapapun yang menunggu mbak, saya hanya melihat mbak ini!” jawab suster sambil menunjuk Radita. “Tapi tadi dia ada koq! Namanya Ragil sus!” kataku yakin. “Ragil ?” tanya suster ragu. “iya, suster tau?” “Hmmm yang saya tahu korban tabrakan tadi pagi selain mbak namanya Ragil mbak!” jelas suster itu. “Apa sus?” aku tak percaya mendengar penjelasan suster itu. “Terus keadaannya bagaimana sus?” kali ini Radita yang bertanya. “Keadaannya masih kritis mbak, dan belum ada pihak keluarga yang datang. Kasihan dia mbak, padahal dia harus menjalani operasi.” “Suster, boleh kami melihat dia?” pamitku. “Silahkan mbak!” Aku dan Radita mengikuti langkah suster menuju sebuah kamar. Kakiku terasa lemas tak berdaya saat yang aku lihat di depan mataku adalah Ragil yang aku maksud. Tak terasa air mata meleleh, membasahi pipiku, aku tak mampu mempercayai apa yang aku lihat. Radita membantu aku untuk duduk di samping Ragil. Melihat keadaannya yang sangat kritis membuat aku tak mampu berkata-kata, aku tak tahu harus berbuat apa, perasaanku limbung. “Tuhan, tolong berikan sebuah muzizat untuknya.” doaku dalam hati. Tak lama selesai aku berdoa untuknya, tangannya sedikit bergerak. Aku sangat senang sekali. Radita langsung memanggil dokter. Dokter bersama para suster segera menangani Ragil, aku dan Radita hanya menunggu di depan pintu sambil berdoa penuh harap. Saat dokter keluar, dengan segera aku berdiri meski kakiku masih sangat sakit “Dok, bagaimana ?” tanyaku harap – harap cemas. “Maaf, kami telah berusaha sekuat mungkin tapi Tuhan berkata lain. Sebaiknya anda segera menghubungi keluarganya, karena nyawanya sudah tak tertolong lagi!” jawab dokter sambil menepuk-nepuk bahuku seolah memberiku kekuatan. Aku tak kuasa menahan tangisku, perlahan aku dekati dia, dengan setengah berbisik aku berkata “Terima kasih mas Ragil!”.
Aku tak percaya perkenalanku dengannya harus dengan cara yang tragis seperti ini. Selama satu tahun aku mengaguminya, menunggunya di taman setiap pagi, memandanginya dari jauh, tanpa pernah berani membalas senyumannya apalagi berkenalan. Aku merasa terkejut bercampur bahagia saat tersadar dari pingsanku, aku melihat dia. Tapi ternyata itu hanya sebuah ilusi atau khayalan yang sangat nyata aku rasakan. Ku dengar dari beberapa saksi kecelakaan pagi itu, sebelum mobil itu menyerempetku mas Ragil berteriak padaku, tapi aku tak mendengar. Saat mobil itu hampir mendekatiku mas Ragil mendorongku, belum sempat mas Ragil berlari mobil itu menabrak mas Ragil hingga terpental jauh. Aku merasa sangat bersalah, seharusnya aku yang tertabrak dan mati, bukan mas Ragil. Aku menyesal kenapa pagi itu aku tak sabar sebentar lagi untuk menunggunya datang, kalau saja aku bisa bersabar mungkin ini takkan pernah terjadi. Seberapa besar rasa penyesalanku, aku takkan mampu mengembalikan keadaan seperti semula.