Bible says :

Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2012

pertama dan terakhir

Setahun yang lalu di taman ini aku tak sengaja bertemu dengannya. Tepat pukul 07.30 setiap hari kerja aku bertemu dengannya. Senyumnya yang manis membuat aku mengaguminya, sampai kini setahun berlalu aku masih mengaguminya tanpa sekalipun berani menyapanya dan berkenalan.

Hari ini seperti biasa tepat jam 7.30 aku sudah sampai di taman ini, tapi wajah manisnya belum terlihat. “mungkin dia terlambat!” gumamku sambil duduk di bangku taman bermaksud menunggunya. Sudah 20 menit berlalu belum juga ada tanda-tanda kehadirannya. “Aah mungkin aku yang terlambat!” gumamku seraya aku bergegas meninggalkan taman. Kantorku terletak tepat di seberang taman, sebelum aku menyebrang aku sempat melihat sekeliling taman berharap dirinya ada disini. Dengan setengah berlari aku bergegas menyebrang jalan. Tiba-tiba dari arah kananku mobil melaju dengan kecepatan tinggi, aku kehilangan keseimbangan.

Kepalaku masih sakit saat aku terbangun dari tidurku. Oh tidak aku bukan tertidur, tapi aku pingsan dan aku sekarang ada di rumah sakit. Tangan dan kakiku sudah penuh perban, badanku rasanya sakit semua, aku mencoba melihat sekeliling, mencari seseorang yang bisa kutanya. “jangan dulu terlalu banyak bergerak mba!” suara lelaki secara tiba tiba mengejutkanku. “Mbak tadi terserempet mobil sampai jatuh pingsan. Kata dokter mbak harus banyak istirahat dulu, belum boleh banyak bergerak!” lanjutnya. Lelaki itu sepertinya aku kenal, ya dia lelaki yang aku tunggu setiap pagi ternyata dia yang menolongku dan membawaku ke rumah sakit. “Maas siapa?” tanyaku terbata – bata sambil menahan sakit. “Saya Ragil mbak, kantor kita berdekatan!”. “Mas Ragil gag kerja? Koq masih disini?” “Saya kan yang membawa mbak kesini jadi saya harus disini sampai keluarga mbak ada yang datang!” “Tas saya dimana ?” “Hmmm maaf mbak tadi saya buru-buru membawa mbak kesini, saya gag bawa tas mbak. Begitu sampai disini saya baru ingat lalu saya segera kembali kesana tapi tas mbak sudah ga ada dan tak satupun orang disana yang tahu. Maaf mbak!” jelasnya dengan wajah bersalah. “Saya hanya bisa menunggu mbak sampai sadar biar saya bisa menghubungi keluarga mbak!” “Berapa mbak nomor keluarga mbak?” tanyanya sambil mengeluarkan HPnya. “Keluarga saya di luar kota, cukup hubungi kantor saya saja!” jawabku. “Nomor teleponnya berapa?” “Saya lupa mas!” jawabku malu. “Kalau begitu saya ke kantor mbak saja. Bagaimana?” “Sepertinya itu ide bagus!” “Saya harus bertemu siapa disana mbak?” “Mas Ragil cari yang namanya Radita, bilang sama dia saya disini! Nama saya Wanda.” “OK mbak Wanda, saya tinggal dulu ya!” pamitnya  “Terima kasih mas!”

Satu jam kemudian Radita sahabatku datang menemaniku. “Wanda, kamu koq bisa celaka begini?” tanya Radita begitu melihatku. “Aku juga ga tau Dit.” Jawabku asal sambil melihat ke arah pintu. “Dit, Mas Ragil mana?” tanyaku. “Mas Ragil siapa Wan?” tanya Radita heran. “Kamu tau dari siapa aku disini? Dari mas Ragil kan?” “Aku tahu dari Pak Bayu, tukang siomay langganan kita!” “Hah , kamu serius? Mas Ragil itu yang nolong aku!” “Iya aku serius. Masa aku bohong sih? Tadi tuh aku ga liat kamu di kantor, aku coba telpon hp kamu, gag aktif. Aku tanyain satu kantor gag ada yang tahu. Aku coba keluar ke siomay pak Bayu, siapa tahu kamu disana. Pak Bayu bilang kalau tadi abis ada kecelakaan di depan kantor. Korbannya satu cewe satu cowo, dan pak Bayu bilang korban cewenya mirip kamu. Denger kaya gitu aku langsung cari kamu!” “Jadi kamu ga ketemu mas Ragil?” “Gag Wanda!”

Aku bingung, terus bertanya dalam hati kemana perginya mas Ragil? Sejak dia pamit untuk memanggil Radita dia tak kembali lagi. Dokter mengizinkan aku pulang hari ini juga. Dengan dibantu Radita aku mengurus administrasi Rumah Sakit. Rasa penasaranku terhadap sosok Ragil sangat besar, memaksa aku mencari tahu keberadaanya. “Suster, orang yang tadi mengantar saya kesini dimana ya?” tanyaku penasaran. “Tadi yang mengantar banyak mbak dan sudah pada pulang semua!” “Tadi ada satu orang yang jagain saya sampai saya sadar sus, dia bilang mau pergi sebentar tapi gag kembali juga. Saya mau bilang terima kasih sama dia sus!” “Maaf mbak saya gag melihat siapapun yang menunggu mbak, saya hanya melihat mbak ini!” jawab suster sambil menunjuk Radita. “Tapi tadi dia ada koq! Namanya Ragil sus!” kataku yakin. “Ragil ?” tanya suster ragu. “iya, suster tau?” “Hmmm yang saya tahu korban tabrakan tadi pagi selain mbak namanya Ragil mbak!” jelas suster itu. “Apa sus?” aku tak percaya mendengar penjelasan suster itu. “Terus keadaannya bagaimana sus?” kali ini Radita yang bertanya. “Keadaannya masih kritis mbak, dan belum ada pihak keluarga yang datang. Kasihan dia mbak, padahal dia harus menjalani operasi.” “Suster, boleh kami melihat dia?” pamitku. “Silahkan mbak!” Aku dan Radita mengikuti langkah suster menuju sebuah kamar. Kakiku terasa lemas tak berdaya saat yang aku lihat di depan mataku adalah Ragil yang aku maksud. Tak terasa air mata meleleh, membasahi pipiku, aku tak mampu mempercayai apa yang aku lihat. Radita membantu aku untuk duduk di samping Ragil. Melihat keadaannya yang sangat kritis membuat aku tak mampu berkata-kata, aku tak tahu harus berbuat apa, perasaanku limbung. “Tuhan, tolong berikan sebuah muzizat untuknya.” doaku dalam hati. Tak lama selesai aku berdoa untuknya, tangannya sedikit bergerak. Aku sangat senang sekali. Radita langsung memanggil dokter. Dokter bersama para suster segera menangani Ragil, aku dan Radita hanya menunggu di depan pintu sambil berdoa penuh harap. Saat dokter keluar, dengan segera aku berdiri meski kakiku masih sangat sakit “Dok, bagaimana ?” tanyaku harap – harap cemas. “Maaf, kami telah berusaha sekuat mungkin tapi Tuhan berkata lain. Sebaiknya anda segera menghubungi keluarganya, karena nyawanya sudah tak tertolong lagi!” jawab dokter sambil menepuk-nepuk bahuku seolah memberiku kekuatan. Aku tak kuasa menahan tangisku, perlahan aku dekati dia, dengan setengah berbisik aku berkata “Terima kasih mas Ragil!”.

Aku tak percaya perkenalanku dengannya harus dengan cara yang tragis seperti ini. Selama satu tahun aku mengaguminya, menunggunya di taman setiap pagi, memandanginya dari jauh, tanpa pernah berani membalas senyumannya apalagi berkenalan. Aku merasa terkejut bercampur bahagia saat tersadar dari pingsanku, aku melihat dia. Tapi ternyata itu hanya sebuah ilusi atau khayalan yang sangat nyata aku rasakan. Ku dengar dari beberapa saksi kecelakaan pagi itu, sebelum mobil itu menyerempetku mas Ragil berteriak padaku, tapi aku tak mendengar. Saat mobil itu hampir mendekatiku mas Ragil mendorongku, belum sempat mas Ragil berlari mobil itu menabrak mas Ragil hingga terpental jauh. Aku merasa sangat bersalah, seharusnya aku yang tertabrak dan mati, bukan mas Ragil. Aku menyesal kenapa pagi itu aku tak sabar sebentar lagi untuk menunggunya datang, kalau saja aku bisa bersabar mungkin ini takkan pernah terjadi. Seberapa besar rasa penyesalanku, aku takkan mampu mengembalikan keadaan seperti semula.

Senin, 18 April 2011

Hatiku Hanya Untuk Kamu

Laila Shane, adalah anak baru di kelasku. Ia pindahan dari Perth, Australia. Secara fisik dia terlihat cantik, dengan segala yang dimilikinya dia terlihat sempurna sebagai wanita. Bagaimana tidak dia memiliki bola mata berwarna coklat, hidungnya mancung, kulitnya putih bersih, bibirnya tipis dan merah alami. Semua mata lelaki di kelasku tak berhenti menatapnya, tak terkecuali Rafael, pacarku. Secara fisik aku memang kalah jauh darinya.

Saat istirahat aku mengajak Rafael ke kantin. Tapi dengan halus dia menolak ajakanku. Akhirnya akupun pergi ke kantin bersama temanku Tifa. Aku tak tahu tumben seklai Rafael menolak ajakanku. Biasanya dia gag seperti ini. Perutku yang tadinya lapar tak lagi merasa lapar begitu aku sampai di kantin. Setelah membeli sebotol air mineral aku pun langsung balik ke kelas. Tifa aku tinggalkan saja di kantin. Aku penasaran kenapa sih Rafael ga mau nemenin aku ke kantin, ga bisanya dia begini. Dengan langkah yang cepat aku menuju kelasku di lantai 2, satu demi satu anak tangga ku lalui dengan cepat. Tak peduli napas yang mulai habis, aku harus segera menemui Rafael. Aku terperanjat tepat di depan pintu kelas. Melihat Rafael ngobrol mesra sambil mengusap kepala Laila , anak baru itu. Aku hampiri mereka, dan tanpa babibu aku langsung tarik Rafael. Aku marah , jelas aku marah. Rafael sudah membuat aku marah karena cemburu hari ini. Laila berdiri dan ikut menarik tangan Rafael, ia berusaha menahan Rafael. “Anak baru lepasin ga!” bentakku sambil berusaha melepaskan tangannya dari Rafael. “Gag! Gw ga bakal lepasin!” jawabnya. Anak-anak yang ada di kelas dan yang kebetulan lewat di depan kelasku hanya diam dan melihat kami bertiga. “Heii, lo itu anak baru disini! Gag usah cari masalah deh sama gw!” kataku lagi dengan nada menyindir dan mendorong badan Laila sampai ia terjatuh. Melihat Laila jatuh aku langsung menarik tangan Rafael , tapi Rafael yang tadi hanya diam saja menunjukkan perlawanannya padaku. Ia balik menarikku dan membentakku “Li, kenapa kamu dorong Laila?” tanpa menunggu jawabku Rafael menolong Laila bangun dan membantunya sampai duduk di bangku. “Raf, kamu yang kenapa?” kataku lirih, aku tak yakin apakah Rafael mendengarnya atau ga. Tanpa memedulikan Rafael dan Laila aku berjalan keluar kelas.
Sudah 1 jam aku ada disini, di UKS. Aku tak peduli dengan bel masuk tanda istirahat selesai.
Aku ga mau masuk kelas, karena aku ga mau ketemu Rafael dan Laila. Tifa sudah ku sms supaya dia memberitahu guruku aku sakit dan ada di UKS. Mengingat kejadian tadi, aku pusing dan rasanya mau menangis. Memang sudah sebulan terkahir ini Rafael berubah, dia jarang telepon atau sekedar sms aku, gag pernah lagi ke rumahku, pulang sekolahpun dia lebih suka sendiri, sangat berbeda kalau dibandingkan dengan sebelumnya. Aku gag merasa takut ataupun galau melihat perubahannya, tapi hari ini dia benar-benar membuat aku takut kehilangan dia begitu melihat dia begitu dekat dan mesra bersama Laila. Seandainya saja wanita itu bukan Laila, seorang murid baru yang baru saja masuk sekolah. Tapi mereka berdua bukan seperti orang yang baru saja kenal. Ooh God, tiba-tiba aku berpikir apa mereka sudah saling kenal sebelumnya, dan Rafael berubah sejak dia tahu kalau Laila bakal pindah ke sekolah kami. Kalau memang benar kenapa Rafael ga pernah cerita sama aku? Bukannya selama ini Rafael ga pernah menyembunyikan sesuatu?

Saat aku masih sibuk dengan berbagai analisa , ada yang mengetuk pintu UKS. Dari balik tirai, aku lihat Tifa masuk. “Li, lo masih di dalam?” “iya Fa, masuk!” Tifa duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur. “Li, kenapa?” tanya Tifa lembut. Aku hanya menggelengkan kepala dan tanpa sadar air mataku menetes. Aku sudah berusaha menahan air mataku agar tak tumpah, tapi begitu mendengar suara Tifa yang lembut aku ga kuat menahannya lagi. Dengan terbata-bata aku menceritakan semua yang aku rasakan, air mata terus menetes setiap aku menyebut nama Rafael. “Li, lo positif thinking ajj ya! Jangan berpikiran kaya gini, cuma bikin lo sedih doank!” kata Tifa sambil menghapus air mataku. Aku sedikit lega bisa mengeluarkan semua kesedihanku. Aku terkenal sebagai cewe tomboy di sekolah, prestasiku di bidang bela diri segudang,membuat para cowo takut mendekatiku, jadi takkan ada yang percaya aku menangis saat ini hanya karena cowo. Di mata orang lain aku memang terlihat kuat, hanya di depan Tifa aku bisa leluasa mengeluarkan semua yang aku rasakan.

Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Tifa membawakan tasku ke UKS dan mengajakku pulang. Waktu aku dan Tifa berjalan menuju parkiran, Rafael dan Laila sudah menungguku disana. Aku pura-pura ga lihat mereka, aku langsung masuk ke mobil Tifa. Tifa berusaha menyuruhku menemui mereka, tapi aku tetap bersikeras. Tifa menyerah dan dia mengemudikan mobilnya meninggalkan mereka yang berusaha menemuiku. Aku langsung berbaring di tempat tidurku begitu aku nyampe di rumah. Aku tertidur karena lelah menangis, padahal aku belum mengganti seragamku. Kalau saja mama ga bangunin aku, aku pasti bakal ketiduran sampe besok pagi. Mama bangunin aku dan menyuruhku mandi karena ada Rafael yang lagi nunggu aku di ruang tamu. Dengan langkah gontai aku masuk kamar mandi, huft kalo aja bukan mama yang bangunin aku dan nyuruh aku ketemu Rafael pasti aku ga bakalan mau deh.
“Mau apa Raf?”
“Aku mau minta maaf Li!”
“Buat apa?”
“Tifa udah cerita semuanya tadi. Aku akan jelasin tentang Laila!”
“silahkan kalau mau jelasin! Aku ga punya banyak waktu!”
“Maaf aku udah bohongin kamu, aku ga pernah cerita tentang Laila sebelumnya ke kamu.”
“gag usah pake pembukaan segala, kalo mau cerita langsung aja!”
“Intinya Laila itu pacar aku, Li!”
Bagai disambar petir di tengah siang bolong aku mendengar kenyataan itu. Aku benar – benar gag percaya sama apa yang aku dengar barusan. Aku cuma bisa diam dan menundukkan kepala, menyembunyikan air mataku yang mulai meleleh.
“Li, maafin aku ya!” Rafael memegang tanganku.
Aku masih diam.
“Lisa, ayo bicara!” kali ini dia menggenggam tanganku lebih kuat.
“Bicara apa Raf ?” kataku dengan tatapan nanar aku melepas tangannya.
“Apa saja Li, asal kamu bisa luapin kemarahan kamu dan maafin aku!”
Aku ga bisa ngomong apa-apa, aku sedih sangat sedih. Rafael satu – satunya cowo yang berani deketin gw, dan akhirnya bisa luluhin hati gw. Cowo yang selama ini gw sayang dengan sepenuh hati gw. Sekarang Rafael sudah menjelma jadi orang yang paling aku benci.
“Lalu, kenapa kamu masih disini? Laila pasti udah nunggu kamu kan?”
“Li, aku sangat menyesal udah buat kamu kecewa!”
“Sudahlah, memang nasibku koq!”
“Li, apa kamu mau maafin aku?”
“gag ada satupun kesalahan di dunia ini yang ga bisa dimaafin. Walau sakit aku akan berusaha memaafkan kamu Raf!”
“thanks Li. Aku tahu kamu pasti bisa maafin aku!”
“lalu , Laila ?”
“Laila, pacarku waktu aku SMP. Dia langsung ke Perth begitu lulus SMP, tanpa pamit sama aku dia pergi gitu aja. Makanya aku kaget waktu sebulan yang lalu dia tiba-tiba email aku kalo dia mau sekolah di sekolah kita. Ternyata Laila mengidap penyakit pengerasan hati, makanya dia pergi ke Perth untuk berobat. Menurut prediksi dokter penyakitnya bisa membunuh Laila perlahan kalau saja Laila tak mendapatkan donor hati. Orang tua Laila menyuruhku untuk tetap bisa menjadi pacar Laila, supaya Laila semangat menjalani pengobatan. Aku ga bisa menolak permintaan orang tuanya Li!” jelas Rafael.
“Kamu memang orang baik! Bahagiakan Laila dan lupakan aku!”
“Lisa, mana mungkin aku bisa lupain kamu? Kalau ternyata aku benar-benar sayang kamu?”
“Kalau kamu sayang aku, lakukan saja semua mauku!”
“Lisa, …”
“Rafael, aku masih bisa bertahan walau tanpa kamu. Tapi Laila ga bisa bertahan tanpa kamu.”
“Baiklah kalau itu maumu!”
Rafael pulang setelah menjelaskan semuanya. Aku yang masih shock massih belum percaya kalau baru saja aku memutuskan hubunganku dengan Rafael. Padahal aku bisa saja menahannya dan tak memedulikan Laila. Toh aku juga ga kenal sama dia. Tapi aku ga mau di bilang sebagai cewe jahat, karena bagaimanapun Laila lebih dulu mendapatkan cinta Rafael daripada aku.

***********************************************
Pagi ini aku merasa tak bertenaga untuk sekolah. Meski mama sudah melarangku sekolah aku tetap memaksakan diri untuk sekolah. Aku ga mau membuat Rafael berpikir aku belum bisa melepaskannya. Hari ini aku berangkat sekolah dengan mengendarai monil sedan mama yang sengaja aku pinjam. Aku mengendarai mobil dengan kecepatan rata-rata, seperti pesan mama. Tanpa aku sadari ada sebuah truk besar menghantam mobilku dari arah samping kananku. Ternyata aku melamun dan menerobos lampu merah. Mobilku hancur, apalagi aku. Dengan bersimbah darah aku dilarikan ke rumah sakit terdekat.
“Karena mengalami benturan yang sangat hebat, anak ibu mengalami koma!” begitu kata dokter yang menanganiku, diiringi isak tangis mama disampingku. Meski aku dalam keadaan koma aku mendengar suara mama yang menangis. “Kasihan mama!” bisikku dalam hati. Lalu sayup-sayup kudengar ada suara Tifa dan Rafael. Mereka juga menangis melihat keadaanku. “ahh kenapa mereka juga harus menangis?” bisikku lagi.
Aku melihat ada cahaya putih menyilaukan mataku, apa ini sudah saatnya aku pergi? Aku ingin cepat pergi, meninggalkan rasa sakit yang aku rasakan. Tapi aku tak ingin meninggalkan mama sendiri. Kasihan mama, sejak perceraiannya dengan papa kami hanya tinggal berdua karena Jeremy adikku tinggal dengan papa. Masih terdengar isak tangis mama ditelingaku, mama berusaha membangunkan aku dari koma. Suara tangis Rafael sambil sesekali membisikkan kata maaf, tangannya yang lembut membelai rambutku. Aku berusaha membuka mataku, ingin sekali aku mengatakan pada mama betapa aku menyayanginya. Tapi semakin aku berusaha cahaya putih itu semakin terang, suara – suara yang tadi masih sempat kudengar semakin menghilang.
Gerimis mengiringi air mata kesedihan mama, Rafael, Tifa, dan para pelayat yang datang ke pemakamanku. Ingin rasanya aku memeluk mama yang sedih, tapi aku hanya bisa melihat mama dari jauh tanpa bisa menyentuhnya. Karena kami sudah berbeda dunia sekarang. Setelah satu persatu pelayat meninggalkan makamku. Aku melihat mama memberikan buku harianku pada Rafael dan meninggalkannya di makamku.

Jakarta, 5 mei

Rafael adalah satu-satunya laki-laki yang mampu membuka pintu hatiku. Mencintainya membuat aku bahagia, dan aku takut kehilangannya. Hari ini hal yang paling aku takuti terjadi. Rafael benar – benar meninggalkan aku. Laila , anak baru di sekolahku yang sudah membuat semua ini terjadi. Tapi aku tak menyalahkan Laila dan Rafael sepenuhnya. Laila pasti tak pernah mau memiliki penyakit itu, Rafael juga tak bisa untuk menolak keinginan orang tua Laila. Aku, akan merelakan cintaku pergi.
Tuhan , berikan aku hati yang ikhlas untuk menerima semua ini. Bahagiakan Rafael, karena aku begitu menyayanginya. Seandainya mungkin Tuhan, aku ingin memberikan hatiku untuk Laila. Aku ingin mencintai Rafael, walau dengan wujud Laila. Amin

Chalisa Meigan

Tuhan mengabulkan permintaan terkahirku, aku memberikan hatiku untuk Laila. Aku yakin dengan memberikan hatiku untuk Laila, aku masih bisa mencintai Rafael sampai aku bertemu kembali dengannya disini. Di sorga tempatku sekarang berada. Aku mencintaimu Rafael Alexander.

Rabu, 23 Februari 2011

SENYUMAN UNTUK LISA

“Kenapa hatiku cenat cenut tiap ada kamu”
You know me so well
“I know you so well”
“Girl i need you, Girl i love you, Girl i heart you”


Prok , prok , prok …. Yeeeeaaahh SM*SH I HEART YOU !!!! tepuk tangan dan terikana riuh para SB membahana di lapangan SMA Harapan setelah SM*SH selesai menyanyikan lagu andalan mereka.
“Rangga …. Rangga .. I heart you !” Teriak Tisa sahabatku yang sangat mengidolakan SM*SH terutama Rangga. “duh Tisa , biasa ajj donk! Kataku sewot sambil menutup kuping yang pekak karena teriakan para SB. “Lisa, Rangga keren banget!” “iya Tis, tapi lo bisa biasa ajj kan ?” jawabku kesal sambl menyeret Tisa keluar dari lapangan. “Duh Lisa , lo koq narik – narik gw sih ? gw kan pengen foto bareng Rangga!” Tisa melepaskan tangannya dari genggamanku dan balik menarikku ke arah backstage. Sampai di backstage udah banyak banget cewe – cewe ajaib yang mengerumuni semua anggota SM*SH. Ada yang minta foto bareng, minta tanda tangan, dan sekedar bersalaman. Tisa pun ga ketinggalan nimbrung di kerumunan itu, dengan tangan yang masih menggenggam tanganku, ia menarikku menerobos kerumunan itu.
“Rangga, foto bareng donk!” pinta Tisa pada Rangga yang sudah ada dihadapannya “OK!” jawab Rangga dengan senyuman mautnya yang bisa bikin cewe-cewe kaya Tisa menjerit. Tisa langsung ambil tempat disamping Rangga dan member kode supaya aku segera mengambil gambar mereka.
‘JEPREETT…’
“udah puas kan lo Tis ?” kataku BT sambil mengembalikan kamera ke Tisa. “sekarang gw mau masuk ke dalam, lo mau ikut atau disini aja?” Tanyaku lagi kali ini dengan nada agak ketus. “gw ikut lo deh Lis!”
Aku dan Tisa pergi meninggalkan kerumunan itu melewati koridor sekolah menuju kelas tempat dimana panitia pensi berkumpul. Lagi asik – asiknya jalan tiba – tiba Tisa teriak “astaga Lisa, lo kan panitia ya ? kenapa gw harus repot – repot nerobos kerumunan buat foto bareng Rangga ?” “Aduuuuhh Tisa ,, bisa gag lo kalo ngomong ga pake teriak?” bentakku ke Tisa karena membuat aku kaget. “mmm.. maaf ya Lis!”
“Maaf permisi !” seseorang di belakang mengagetkan aku dan Tisa. Begitu kami menoleh kebelakang Tisa kembali menjerit “ MORGAANNN , BISMAAA!” orang yang disebut namanya hanya senyam senyum saja. Dari arah belakang Rangga, Rafael, Ilham, Dicky, dan Reza menyusul mereka. Tisa yang sudah terjerat pesona SM*SH tak bisa menyembunyikan ekspresi bahagianya bisa bertemu secara langsung dengan para idolanya itu.
“Maaf kalian menghalangi jalan kami!” kata Morgan sopan, mengagetkan aku yang hanya terdiam dari tadi. “ooh sorry , silahkan lewat ajj!” aku memberi jalan. “Tunggu dulu ,, aku mau minta tanda tangan dan foto bareng ga sama kalian ?” panggil Tisa. “Tis, kan tadi udah ?” “tadi kan sama Rangga doank Lis, sama yang lainnya belom!” “hmmfh boleh koq!” jawab Bisma ramah “thank you Bisma!” kata Tisa manja “Lis tolong fotoin ya!”sambil memberikan kamera. “aduh Tis lo foto sendiri ajj ya! Gw harus ke ruang panitia niih!” kataku menolak. “Lisa , pliiissss!” rengek Tisa. “hmmm yaudah deh!” aku akhirnya menyerah.
“Thanks Lisa sayang! Sekarang giliran lo ya yang gw foto!” kata Tisa sambil lihat – lihat hasil foto sama SM*SH. “gag perlu Tis!” jawabku ogah. “kamu kayanya gag suka ya sama kita?” Tanya Bisma padaku. “sepertinya begitu !” jawabku sekenanya “kenapa?” Tanya Bisma lagi. “maaf, tapi gw berhak kan buat suka atau ga suka ?” jawabku dengan nada agag ketus sambil meninggalkan mereka bersama Tisa di koridor sekolah.
“maaf ya Bisma, Lisa memang begitu!” Kata Tisa pelan dengan nada memohon. “iya gag apa-apa koq, sudah biasa!” jawab Bisma sambil mengusap kepala Tisa. “ngomong-ngomong nama lo siapa ?” Tanya Rangga. “Zetisa Andhara. Panggil aja Tisa!” Tisa mengulurkan tangannya, terjadi proses perkenalan disana. “Eh Tisa katanya mau minta tanda tangan kita, mana kertas dan pulpennya?” Tanya Ilham. “oiya, ini ..” Tisa menyerahkan pulpen dan buku ke Ilham. “Tis, boleh nanya ga ?” Tanya Morgan. “nanya apa ?” “tapi kayanya ga disini deh, kita ke ruangan ajj yuuk!” ajak Morgan. Tisa hanya menganggukan kepala tanda setuju. Sekarang mereka sudah di ruang tempat SM*SH beristirahat “Morgan tadi mau nanya apa?” Tanya Tisa. “hmm begini Tis, teman kamu itu siapa tadi namanya?” “namanya Lisa, kenapa Gan?” “ooh Lisa. Gw cuma pengen tahu aja alasan kenapa dia gag suka sama kita?” Tanya Morgan penasaran. “Bukannya hal yang biasa ya kalo ada yang ga suka sama kita Gan?” Rafael yang dari tadi diam nimbrung pembicaraan kami. “Lisa itu cewe yang agag tomboy, dia suka ngerasa aneh kalo liat ada cewe-cewe histeris ngeliat kalian di tivi atau lagi manggung gitu. Gw aja suka diomelin sama dia kalo gw teriak histeris kaya tadi tuh !” jelas Tisa. “Cuma itu doank ?” kali ini Bisma yang ikutan nimbrung. “Ya, sebenarnya sih ada lagi dan ini yang utama. Jadi sebulan yang lalu adik sepupunya meninggal tetabrak mobil di Bogor dalam perjalanan mau nonton kalian manggung. Adik sepupunya itu ngefans banget sama kalian, sampai-sampai nekat pergi ke Bogor. Nah mulai saat itu deh dia suka gerah ngeliat tingkah cewe-cewe yang suka histeris ngeliat kalian.” Tisa bercerita panjang lebar. “ooh gitu ceritanya!” gumam Reza. “Lisa sayang banget sama adik sepupunya itu. Sejak adik sepupunya meninggal dia jadi suka sedih, jarang senyum atau ketawa lagi. Dan yang gw tau kalian diundang manggung disini sebagai kado buat adik sepupunya itu. Lisa pengen ngajak adiknya kesini dan ketemu kalian, tapi adiknya udah keburu meninggal.” Tambah Tisa. “hmm Tis, gw minta kertas sama pulpen donk!” pinta Bisma. “ini Bis, buat apa?” Bisma gag menjawab, dia langsung menulis sesuatu di kertas yang dikasih sama Tisa lalu melipatnya dan memberikannya ke Tisa “Kasihin ke Lisa ya nanti Tis!”. “ciee Bisma, surat cinta tuuhh!” ledek Ilham. Bisma hanya tersenyum sedangkan yang lainnya tertawa kecil mendengar celetuk Ilham. “hmmm Tisa, kayanya kita harus pulang niih! Thanks banget lho udah ngobrol-ngobrol!” pamit Rangga dibarengi senyum yang aduhaai menggoda iman Tisa. “iya Tis, makasih ya!” kali ini Rafael yang mengeluarkan senyum mautnya. “hmm iya , sama-sama!” jawab Tisa dengan muka merah. “Tis, jangan lupa kasih suratnya Bisma ya ke Lisa!” pesan Ilham sambil tersenyum nakal dan mengedipkan mata ke arah Tisa. Mereka pun berpamitan satu-satu ke Tisa dan berjalan menyusuri koridor menuju parkiran belakang sekolah lewat pintu samping yang sudah di sediakan panitia. Kebetulan aku ada di depan pintu samping bersama teman-teman panitia saat SM*SH berjalan pulang. Begitu mereka melewati kami, Rangga tersenyum manis sambil bilang “permisi ya!”, sedangkan Reza, Ilham, Bisma, Morgan, Dicky, dan Rafael hanya tersenyum ke arah kami. “huh dasar cowo, tebar pesona mulu!” ucapku dalam hati kesal melihat ulah mereka yang membuat teman-teman ceweku menjerit histeris.
*****************
Malam harinya di rumahku,
Aku yang sedang asyik berbaring di atas tempat tidurku , tiba-tiba dikagetkan oleh suara khas Tisa. “Lisaa sayaanggg!” “ngapain sih lo Tis, malam – malam gini teriak – teriak ganggu banget tauukk!” omelku. “santaii sist, gw cuma mau ngasih ini titipan dari Bisma tadi!” Tisa menyerahkan surat dan aku langsung menerimanya. “Baca langsung Lis, gw penasaran liat isinya!”. Aku langsung membuka surat itu dan membacanya,

‘dear Lisa,
Adalah sebuah hak setiap manusia untuk menentukan pilihan. Dan kamu memiliki hak untuk memilih tidak menyukai kami. Tapi kamu juga harus tahu kalo manusia juga memiliki kewajiban untuk melakukan hal yang baik bagi sesamanya. Dan aku memiliki kewajiban itu. Izinkanlah aku melakukan sesuatu yang baik untuk mengembalikan senyuman yang hilang dari wajah kamu. Besok aku tunggu kamu di Taman Menteng jam 8 pagi.
Love Bisma Karisma



“so sweet banget siih Bisma !” “ apaan sih Tis?” “dia ngajakin lo ketemuan tuhh!” Tisa terus menggodaku.
***********************************
Dirumahku , pukul 04.45 WIB

“Baby your is a fireworks …” suara Katy Perry yang menjadi ringtone HP-ku membahana di kamarku membangunkan aku yang masih meringsut di bawah bedcover. Dengan mata ngantuk ku coba menjawab panggilan “Halllooo…” “ Lisaaaa banguuunnn!” aku tahu ini suara Tisa, “ Tisa apaan sih lo?” “gw udah di depan rumah lo nii , bukain donk!” dan sambungan teleponpun terputus. “ngapain sih si Tisa pagi-pagi buta ke rumah gw!” omelku sambil berjalan keluar kamar dan membukakan pintu buat si Tisa.
“tralaaa gw udah siap buat dandanin lo pagi ini!” Tisa mengeluarkan perlengkapan make-upnya dari tas begitu sampai di kamarku. “Mau ngapain lo ?” “lo kan bakal pergi ketemuan sama Bisma kan Lis?” “gag, gw ga bakalan datang. Malas gilaa gw !” “udah deh ga usah keras kepal gitu Lis. Lo diem dan pasrah aja sama apa yang bakal gw lakuin ke lo pagi ini!” ‘Lo ga bisa maksa gw donk Tis!” “Ssssttt udah deh Lis, kali ini lo harus nurut sama gw ya! LO HARUS KETEMUAN SAMA BISMA PAGI INI !” Tisa menegaskan dengan nada lebih tegas. Akhirnya aku menyerah juga dan menuruti semua yang diperintahkan Tisa, ya aku pikir kenapa kali ini aku gag mengikuti saran Tisa. Setelah satu jam lebih aku berkutat dengan Tisa, akhirnya selesai juga penyiksaan Tisa pagi ini. Dengan setelan kaos oblong putih bergambarkan John Lenon, celana jeans hitam, sepatu keds NIKE coklat kesayanganku dan riasan wajah yang simple ala Tisa yang kali ini aku harus akui Tisa berbakat jadi peñata rias aku siap berangkat pagi ini.
Setelah berpamitan dengan orang tuaku kamipun pergi ke Taman Menteng dengan mengedarai mobil Honda Jazz Biru milik Tisa. Berhubung hari minggu jadi jalanan agag sepi dan lancar ga ada macet belum ada satu jam kami sudah sampai di Taman Menteng. “Nah, sudah sampe lo turn sana!” perintah Tisa. Aku menurut saja dan turun dari mobil, begitu aku turun Tisa langsung tancap gas dan meninggalkan aku begitu saja. Hmmm akhirnya aku jalan sendirian di Taman yang pada hari itu banyak banget pasangan yang lagi olahraga sambil pacaran. Aku celingak celinguk mencari sosok Bisma yang menyuruhku datang kesini, sesekali aku melihat jam tanganku. Sudah jam 08.05 tapi Bisma belum kelihatan juga, “kemana dia ? gw lama-lama bête niihh!” aku menggerutu karena bosan. Aku sebenarnya bingung kenapa juga aku harus terima tawaran Bisma untuk ketemuan hari ini? Tapi memang harus aku akui kalu aku sebenarnya penasaran juga sama apa yang akan dilakukan Bisma. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku , “LISA..!” “hosh, hosh , sorry Lis, gw telat!” ternyata Bisma yang memanggilku dia ngos-ngosan karena berlari. “hampir aja gw pulang karena gw piker lo ga bakal datang!” “gw pasti datang, aku tadi harus mempersiapkan ini makanya gw telat!” kata Bisma sambil membentangkan gulungan kanvas. “lukisan wajah siapa itu?” tanyaku bingung. “wajah lo!” aku perhatikan dengan seksama karena aku masih gag percaya lukisan itu lukisan wajahku, tapi koq gag ada bibirnya? “koq wajahnya ga ada bibirnya?” “itu karena lo ga tersenyum!” jawaban Bisma ini membuat aku sedikit terkejut. “nah sekarang lo coba senyum biar gw lukisin bibirnya!” aku masih diam. “koq diam sih ayoo senyum!” “buat apa gw senyum ?” tanyaku. “coba lo rasain pagi ini, indah kan? Masa lo ga tersenyum sih merasakan indahnya pagi ini?” Bisma coba membelai rambutku dan langsung aku tepis. “gimana masih ga mau senyum juga?” Tanya Bisma lagi. “oke gw senyum!” aku tersenyum , secara ga sadar aku tersenyum melihat wajah Bisma yang ternyata manis, apa lagi senyum Bisma yang tulus jujur membuat aku sedikit bergetar. “Selesai! Sekarang lukisannya udah sempurna!” Bisma menyerahkan lukisan itu kepadaku. “wow … ini lo yang ngelukis ?” “iya , kan ada tanda tangan gw tuh dibawahnya!” “hahahaa, narsis lo!” kataku sambil tertawa. “ternyata lo bisa ketawa juga ya?” Tanya Bisma “ya bisalah , gw kan juga manusia!” kataku sewot. “iyaiyaiya, jangan sewot donk !!” Bisma mencubit pipiku. “eeh Lis, disana ada anak-anak SM*SH lhoo! Kesana yuk , sekalian biar lukisan itu ditandatangani sama semua. Mau kan?” “hmmmfhh..!” “kenapa lo takut ya? Tenang anak SM*SH ga makan orang koq, udah pada jinak semua !” canda Bisma membuat aku tertawa “oke deh !” akhirnya kami pergi ke tempat anak-anak SM*SH bersama Bisma.
“Haiii semuua… lihat siapa yang gw bawa!!!” seru Bisma kepada teman-temannya. “haii Lisa!” sapa Morgan, aku kaget koq mereka tahu ya namaku. “Lisa , koq bisa sama Bisma sih ?” goda Rafael “apa sih coh?” sahut Bisma “haii semua !” sapaku dengan suara bergetar, aku degdegan ada diantara mereka kali ini. “ga usah kaku gitu kali Lis!” kali ini Dicky yang menegurku, aku hanya tersenyum. “kami sudah dengar semuanya dari Tisa kemarin, kami turut berdukacita ya atas meninggalnya sepupu kamu. Nanti kalau ada waktu izinkan kami ziarah ke makamnya ya!” Morgan angkat bicara. “kaliiaaann ….” Aku tak mampu meneruskan perkataanku, aku kaget campur sedih mendengar mereka membahas tentang adik sepupuku. “maaf kamu jadi sedih!” Rangga merangkulku. “kalian telah menyebabkan Venus adikku meninggal!” bisikku lirih tak terasa air mata jatuh. “aku benci kalian!” kataku lagi kali ini dengan volume lebih keras dan air mata yang membasahi wajahku. “Itu bukan salah mereka Lis!” Tisa tiba – tiba muncul entah darimana. “Itu sudah menjadi takdir Venus, hanya saja kebetulan itu terjadi pada saat dia mau nonton mereka. Lisa, gw pengen lo ga nyalahin SM*SH melulu!” Tisa memelukku. Aku hanya bisa menangis dan tak mampu mengeluarkan kata-kata sedikitpun. “Lisa, maafin kami ya kalo kami salah! Kami ga pernah bermaksud membuat orang lain sedih!” ucap Rafael lirih “iya Lis, seandainya bisa kami gag akan biarin kejadian itu menimpa adik lo !” sahut Bisma. “mereka udah minta maaf Lis, lo maafin mereka ya!” Tisa menghapus air mataku. “gw terlalu sayang sama Venus, dan gara gara kalian gw kehilangan Venus untuk selamanya. Gw udah ga punya lagi teman yang selalu ada di setiap waktu. Gw udah ga punya lagi adik kecil yang manis dan manja yang selalu menemani gw saat sepi di rumah karena orang tua gw sibuk kerja. Dan kalian udah hancurin semua mimpi gw sama Venus!” kataku dengan berlinang air mata aku benar-benar tak kuat. Baru saja aku mencoba lupakan semua rasa benci gw ke SM*SH karena mereka ternyata baik banget, tapi mereka malah membuka kembali luka di hati gw. “Sekarang apa yang harus kita lakuin biar kamu ga sedih lagi?” Tanya Rangga. “Kalian harus ngebalikin Venus!” jawabku “gag mungkinlah Lis, kami bukan Tuhan yang bisa membuat orang yang sudah meninggal hidup lagi!” Morgan menjawab dengan nada kesal. “Atau begini saja , aku dan yang lainnya jadi sahabat buat kamu. Bukan maksud menggantikan Venus, tapi ya jadikan kami saudara dan sahabat kamu. Kamu bisa cerita apa saja sama kami, kami ga mau kamu sedih lagi!” Rafael menuturkan idenya. “menurut gw itu tawaran yang bagus Lis! Gw sebagai sahabat lo juga ga mau liat keadaan lo begini terus!” Tisa mencoba meyakinkan aku atas tawaran Rafael tadi. “Apa lo semua yakin?” tanyaku ragu. “Aku yakin 100 %!” jawab Morgan , “Aku juga!” Sahut Rafael , “Kami juga!” sambung Bisma diiringi anggukan kepala dari Dicky, Reza, Rangga, dan Ilham. “terima kasih teman-teman…!” kataku sambil tersenyum. Perasaanku agag lega dan plong bisa melepaskan semua hal yang selama ini kupendam. Rangga, Rafael, Bisma, Morgan, Dicky, Ilham, Reza, dan Tisa memelukku dan kami pun tertawa bersama.





nyobanyoba nulis cerpen ehh kebetulan idenya datang dari boyband yang lagi heboh di bicarain di infotaiment,, yaa SM*SH ... heheee
this just fiksi (khayalan tingkat tinggi ...)dan kalian harus tahu gw bukan fangirlnya SM*SH ,, gw cuma ada di posisi netral ..