“Kenapa hatiku cenat cenut tiap ada kamu”
You know me so well
“I know you so well”
“Girl i need you, Girl i love you, Girl i heart you”
Prok , prok , prok …. Yeeeeaaahh SM*SH I HEART YOU !!!! tepuk tangan dan terikana riuh para SB membahana di lapangan SMA Harapan setelah SM*SH selesai menyanyikan lagu andalan mereka.
“Rangga …. Rangga .. I heart you !” Teriak Tisa sahabatku yang sangat mengidolakan SM*SH terutama Rangga. “duh Tisa , biasa ajj donk! Kataku sewot sambil menutup kuping yang pekak karena teriakan para SB. “Lisa, Rangga keren banget!” “iya Tis, tapi lo bisa biasa ajj kan ?” jawabku kesal sambl menyeret Tisa keluar dari lapangan. “Duh Lisa , lo koq narik – narik gw sih ? gw kan pengen foto bareng Rangga!” Tisa melepaskan tangannya dari genggamanku dan balik menarikku ke arah backstage. Sampai di backstage udah banyak banget cewe – cewe ajaib yang mengerumuni semua anggota SM*SH. Ada yang minta foto bareng, minta tanda tangan, dan sekedar bersalaman. Tisa pun ga ketinggalan nimbrung di kerumunan itu, dengan tangan yang masih menggenggam tanganku, ia menarikku menerobos kerumunan itu.
“Rangga, foto bareng donk!” pinta Tisa pada Rangga yang sudah ada dihadapannya “OK!” jawab Rangga dengan senyuman mautnya yang bisa bikin cewe-cewe kaya Tisa menjerit. Tisa langsung ambil tempat disamping Rangga dan member kode supaya aku segera mengambil gambar mereka.
‘JEPREETT…’
“udah puas kan lo Tis ?” kataku BT sambil mengembalikan kamera ke Tisa. “sekarang gw mau masuk ke dalam, lo mau ikut atau disini aja?” Tanyaku lagi kali ini dengan nada agak ketus. “gw ikut lo deh Lis!”
Aku dan Tisa pergi meninggalkan kerumunan itu melewati koridor sekolah menuju kelas tempat dimana panitia pensi berkumpul. Lagi asik – asiknya jalan tiba – tiba Tisa teriak “astaga Lisa, lo kan panitia ya ? kenapa gw harus repot – repot nerobos kerumunan buat foto bareng Rangga ?” “Aduuuuhh Tisa ,, bisa gag lo kalo ngomong ga pake teriak?” bentakku ke Tisa karena membuat aku kaget. “mmm.. maaf ya Lis!”
“Maaf permisi !” seseorang di belakang mengagetkan aku dan Tisa. Begitu kami menoleh kebelakang Tisa kembali menjerit “ MORGAANNN , BISMAAA!” orang yang disebut namanya hanya senyam senyum saja. Dari arah belakang Rangga, Rafael, Ilham, Dicky, dan Reza menyusul mereka. Tisa yang sudah terjerat pesona SM*SH tak bisa menyembunyikan ekspresi bahagianya bisa bertemu secara langsung dengan para idolanya itu.
“Maaf kalian menghalangi jalan kami!” kata Morgan sopan, mengagetkan aku yang hanya terdiam dari tadi. “ooh sorry , silahkan lewat ajj!” aku memberi jalan. “Tunggu dulu ,, aku mau minta tanda tangan dan foto bareng ga sama kalian ?” panggil Tisa. “Tis, kan tadi udah ?” “tadi kan sama Rangga doank Lis, sama yang lainnya belom!” “hmmfh boleh koq!” jawab Bisma ramah “thank you Bisma!” kata Tisa manja “Lis tolong fotoin ya!”sambil memberikan kamera. “aduh Tis lo foto sendiri ajj ya! Gw harus ke ruang panitia niih!” kataku menolak. “Lisa , pliiissss!” rengek Tisa. “hmmm yaudah deh!” aku akhirnya menyerah.
“Thanks Lisa sayang! Sekarang giliran lo ya yang gw foto!” kata Tisa sambil lihat – lihat hasil foto sama SM*SH. “gag perlu Tis!” jawabku ogah. “kamu kayanya gag suka ya sama kita?” Tanya Bisma padaku. “sepertinya begitu !” jawabku sekenanya “kenapa?” Tanya Bisma lagi. “maaf, tapi gw berhak kan buat suka atau ga suka ?” jawabku dengan nada agag ketus sambil meninggalkan mereka bersama Tisa di koridor sekolah.
“maaf ya Bisma, Lisa memang begitu!” Kata Tisa pelan dengan nada memohon. “iya gag apa-apa koq, sudah biasa!” jawab Bisma sambil mengusap kepala Tisa. “ngomong-ngomong nama lo siapa ?” Tanya Rangga. “Zetisa Andhara. Panggil aja Tisa!” Tisa mengulurkan tangannya, terjadi proses perkenalan disana. “Eh Tisa katanya mau minta tanda tangan kita, mana kertas dan pulpennya?” Tanya Ilham. “oiya, ini ..” Tisa menyerahkan pulpen dan buku ke Ilham. “Tis, boleh nanya ga ?” Tanya Morgan. “nanya apa ?” “tapi kayanya ga disini deh, kita ke ruangan ajj yuuk!” ajak Morgan. Tisa hanya menganggukan kepala tanda setuju. Sekarang mereka sudah di ruang tempat SM*SH beristirahat “Morgan tadi mau nanya apa?” Tanya Tisa. “hmm begini Tis, teman kamu itu siapa tadi namanya?” “namanya Lisa, kenapa Gan?” “ooh Lisa. Gw cuma pengen tahu aja alasan kenapa dia gag suka sama kita?” Tanya Morgan penasaran. “Bukannya hal yang biasa ya kalo ada yang ga suka sama kita Gan?” Rafael yang dari tadi diam nimbrung pembicaraan kami. “Lisa itu cewe yang agag tomboy, dia suka ngerasa aneh kalo liat ada cewe-cewe histeris ngeliat kalian di tivi atau lagi manggung gitu. Gw aja suka diomelin sama dia kalo gw teriak histeris kaya tadi tuh !” jelas Tisa. “Cuma itu doank ?” kali ini Bisma yang ikutan nimbrung. “Ya, sebenarnya sih ada lagi dan ini yang utama. Jadi sebulan yang lalu adik sepupunya meninggal tetabrak mobil di Bogor dalam perjalanan mau nonton kalian manggung. Adik sepupunya itu ngefans banget sama kalian, sampai-sampai nekat pergi ke Bogor. Nah mulai saat itu deh dia suka gerah ngeliat tingkah cewe-cewe yang suka histeris ngeliat kalian.” Tisa bercerita panjang lebar. “ooh gitu ceritanya!” gumam Reza. “Lisa sayang banget sama adik sepupunya itu. Sejak adik sepupunya meninggal dia jadi suka sedih, jarang senyum atau ketawa lagi. Dan yang gw tau kalian diundang manggung disini sebagai kado buat adik sepupunya itu. Lisa pengen ngajak adiknya kesini dan ketemu kalian, tapi adiknya udah keburu meninggal.” Tambah Tisa. “hmm Tis, gw minta kertas sama pulpen donk!” pinta Bisma. “ini Bis, buat apa?” Bisma gag menjawab, dia langsung menulis sesuatu di kertas yang dikasih sama Tisa lalu melipatnya dan memberikannya ke Tisa “Kasihin ke Lisa ya nanti Tis!”. “ciee Bisma, surat cinta tuuhh!” ledek Ilham. Bisma hanya tersenyum sedangkan yang lainnya tertawa kecil mendengar celetuk Ilham. “hmmm Tisa, kayanya kita harus pulang niih! Thanks banget lho udah ngobrol-ngobrol!” pamit Rangga dibarengi senyum yang aduhaai menggoda iman Tisa. “iya Tis, makasih ya!” kali ini Rafael yang mengeluarkan senyum mautnya. “hmm iya , sama-sama!” jawab Tisa dengan muka merah. “Tis, jangan lupa kasih suratnya Bisma ya ke Lisa!” pesan Ilham sambil tersenyum nakal dan mengedipkan mata ke arah Tisa. Mereka pun berpamitan satu-satu ke Tisa dan berjalan menyusuri koridor menuju parkiran belakang sekolah lewat pintu samping yang sudah di sediakan panitia. Kebetulan aku ada di depan pintu samping bersama teman-teman panitia saat SM*SH berjalan pulang. Begitu mereka melewati kami, Rangga tersenyum manis sambil bilang “permisi ya!”, sedangkan Reza, Ilham, Bisma, Morgan, Dicky, dan Rafael hanya tersenyum ke arah kami. “huh dasar cowo, tebar pesona mulu!” ucapku dalam hati kesal melihat ulah mereka yang membuat teman-teman ceweku menjerit histeris.
*****************
Malam harinya di rumahku,
Aku yang sedang asyik berbaring di atas tempat tidurku , tiba-tiba dikagetkan oleh suara khas Tisa. “Lisaa sayaanggg!” “ngapain sih lo Tis, malam – malam gini teriak – teriak ganggu banget tauukk!” omelku. “santaii sist, gw cuma mau ngasih ini titipan dari Bisma tadi!” Tisa menyerahkan surat dan aku langsung menerimanya. “Baca langsung Lis, gw penasaran liat isinya!”. Aku langsung membuka surat itu dan membacanya,
‘dear Lisa,
Adalah sebuah hak setiap manusia untuk menentukan pilihan. Dan kamu memiliki hak untuk memilih tidak menyukai kami. Tapi kamu juga harus tahu kalo manusia juga memiliki kewajiban untuk melakukan hal yang baik bagi sesamanya. Dan aku memiliki kewajiban itu. Izinkanlah aku melakukan sesuatu yang baik untuk mengembalikan senyuman yang hilang dari wajah kamu. Besok aku tunggu kamu di Taman Menteng jam 8 pagi.
Love Bisma Karisma
“so sweet banget siih Bisma !” “ apaan sih Tis?” “dia ngajakin lo ketemuan tuhh!” Tisa terus menggodaku.
***********************************
Dirumahku , pukul 04.45 WIB
“Baby your is a fireworks …” suara Katy Perry yang menjadi ringtone HP-ku membahana di kamarku membangunkan aku yang masih meringsut di bawah bedcover. Dengan mata ngantuk ku coba menjawab panggilan “Halllooo…” “ Lisaaaa banguuunnn!” aku tahu ini suara Tisa, “ Tisa apaan sih lo?” “gw udah di depan rumah lo nii , bukain donk!” dan sambungan teleponpun terputus. “ngapain sih si Tisa pagi-pagi buta ke rumah gw!” omelku sambil berjalan keluar kamar dan membukakan pintu buat si Tisa.
“tralaaa gw udah siap buat dandanin lo pagi ini!” Tisa mengeluarkan perlengkapan make-upnya dari tas begitu sampai di kamarku. “Mau ngapain lo ?” “lo kan bakal pergi ketemuan sama Bisma kan Lis?” “gag, gw ga bakalan datang. Malas gilaa gw !” “udah deh ga usah keras kepal gitu Lis. Lo diem dan pasrah aja sama apa yang bakal gw lakuin ke lo pagi ini!” ‘Lo ga bisa maksa gw donk Tis!” “Ssssttt udah deh Lis, kali ini lo harus nurut sama gw ya! LO HARUS KETEMUAN SAMA BISMA PAGI INI !” Tisa menegaskan dengan nada lebih tegas. Akhirnya aku menyerah juga dan menuruti semua yang diperintahkan Tisa, ya aku pikir kenapa kali ini aku gag mengikuti saran Tisa. Setelah satu jam lebih aku berkutat dengan Tisa, akhirnya selesai juga penyiksaan Tisa pagi ini. Dengan setelan kaos oblong putih bergambarkan John Lenon, celana jeans hitam, sepatu keds NIKE coklat kesayanganku dan riasan wajah yang simple ala Tisa yang kali ini aku harus akui Tisa berbakat jadi peñata rias aku siap berangkat pagi ini.
Setelah berpamitan dengan orang tuaku kamipun pergi ke Taman Menteng dengan mengedarai mobil Honda Jazz Biru milik Tisa. Berhubung hari minggu jadi jalanan agag sepi dan lancar ga ada macet belum ada satu jam kami sudah sampai di Taman Menteng. “Nah, sudah sampe lo turn sana!” perintah Tisa. Aku menurut saja dan turun dari mobil, begitu aku turun Tisa langsung tancap gas dan meninggalkan aku begitu saja. Hmmm akhirnya aku jalan sendirian di Taman yang pada hari itu banyak banget pasangan yang lagi olahraga sambil pacaran. Aku celingak celinguk mencari sosok Bisma yang menyuruhku datang kesini, sesekali aku melihat jam tanganku. Sudah jam 08.05 tapi Bisma belum kelihatan juga, “kemana dia ? gw lama-lama bête niihh!” aku menggerutu karena bosan. Aku sebenarnya bingung kenapa juga aku harus terima tawaran Bisma untuk ketemuan hari ini? Tapi memang harus aku akui kalu aku sebenarnya penasaran juga sama apa yang akan dilakukan Bisma. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku , “LISA..!” “hosh, hosh , sorry Lis, gw telat!” ternyata Bisma yang memanggilku dia ngos-ngosan karena berlari. “hampir aja gw pulang karena gw piker lo ga bakal datang!” “gw pasti datang, aku tadi harus mempersiapkan ini makanya gw telat!” kata Bisma sambil membentangkan gulungan kanvas. “lukisan wajah siapa itu?” tanyaku bingung. “wajah lo!” aku perhatikan dengan seksama karena aku masih gag percaya lukisan itu lukisan wajahku, tapi koq gag ada bibirnya? “koq wajahnya ga ada bibirnya?” “itu karena lo ga tersenyum!” jawaban Bisma ini membuat aku sedikit terkejut. “nah sekarang lo coba senyum biar gw lukisin bibirnya!” aku masih diam. “koq diam sih ayoo senyum!” “buat apa gw senyum ?” tanyaku. “coba lo rasain pagi ini, indah kan? Masa lo ga tersenyum sih merasakan indahnya pagi ini?” Bisma coba membelai rambutku dan langsung aku tepis. “gimana masih ga mau senyum juga?” Tanya Bisma lagi. “oke gw senyum!” aku tersenyum , secara ga sadar aku tersenyum melihat wajah Bisma yang ternyata manis, apa lagi senyum Bisma yang tulus jujur membuat aku sedikit bergetar. “Selesai! Sekarang lukisannya udah sempurna!” Bisma menyerahkan lukisan itu kepadaku. “wow … ini lo yang ngelukis ?” “iya , kan ada tanda tangan gw tuh dibawahnya!” “hahahaa, narsis lo!” kataku sambil tertawa. “ternyata lo bisa ketawa juga ya?” Tanya Bisma “ya bisalah , gw kan juga manusia!” kataku sewot. “iyaiyaiya, jangan sewot donk !!” Bisma mencubit pipiku. “eeh Lis, disana ada anak-anak SM*SH lhoo! Kesana yuk , sekalian biar lukisan itu ditandatangani sama semua. Mau kan?” “hmmmfhh..!” “kenapa lo takut ya? Tenang anak SM*SH ga makan orang koq, udah pada jinak semua !” canda Bisma membuat aku tertawa “oke deh !” akhirnya kami pergi ke tempat anak-anak SM*SH bersama Bisma.
“Haiii semuua… lihat siapa yang gw bawa!!!” seru Bisma kepada teman-temannya. “haii Lisa!” sapa Morgan, aku kaget koq mereka tahu ya namaku. “Lisa , koq bisa sama Bisma sih ?” goda Rafael “apa sih coh?” sahut Bisma “haii semua !” sapaku dengan suara bergetar, aku degdegan ada diantara mereka kali ini. “ga usah kaku gitu kali Lis!” kali ini Dicky yang menegurku, aku hanya tersenyum. “kami sudah dengar semuanya dari Tisa kemarin, kami turut berdukacita ya atas meninggalnya sepupu kamu. Nanti kalau ada waktu izinkan kami ziarah ke makamnya ya!” Morgan angkat bicara. “kaliiaaann ….” Aku tak mampu meneruskan perkataanku, aku kaget campur sedih mendengar mereka membahas tentang adik sepupuku. “maaf kamu jadi sedih!” Rangga merangkulku. “kalian telah menyebabkan Venus adikku meninggal!” bisikku lirih tak terasa air mata jatuh. “aku benci kalian!” kataku lagi kali ini dengan volume lebih keras dan air mata yang membasahi wajahku. “Itu bukan salah mereka Lis!” Tisa tiba – tiba muncul entah darimana. “Itu sudah menjadi takdir Venus, hanya saja kebetulan itu terjadi pada saat dia mau nonton mereka. Lisa, gw pengen lo ga nyalahin SM*SH melulu!” Tisa memelukku. Aku hanya bisa menangis dan tak mampu mengeluarkan kata-kata sedikitpun. “Lisa, maafin kami ya kalo kami salah! Kami ga pernah bermaksud membuat orang lain sedih!” ucap Rafael lirih “iya Lis, seandainya bisa kami gag akan biarin kejadian itu menimpa adik lo !” sahut Bisma. “mereka udah minta maaf Lis, lo maafin mereka ya!” Tisa menghapus air mataku. “gw terlalu sayang sama Venus, dan gara gara kalian gw kehilangan Venus untuk selamanya. Gw udah ga punya lagi teman yang selalu ada di setiap waktu. Gw udah ga punya lagi adik kecil yang manis dan manja yang selalu menemani gw saat sepi di rumah karena orang tua gw sibuk kerja. Dan kalian udah hancurin semua mimpi gw sama Venus!” kataku dengan berlinang air mata aku benar-benar tak kuat. Baru saja aku mencoba lupakan semua rasa benci gw ke SM*SH karena mereka ternyata baik banget, tapi mereka malah membuka kembali luka di hati gw. “Sekarang apa yang harus kita lakuin biar kamu ga sedih lagi?” Tanya Rangga. “Kalian harus ngebalikin Venus!” jawabku “gag mungkinlah Lis, kami bukan Tuhan yang bisa membuat orang yang sudah meninggal hidup lagi!” Morgan menjawab dengan nada kesal. “Atau begini saja , aku dan yang lainnya jadi sahabat buat kamu. Bukan maksud menggantikan Venus, tapi ya jadikan kami saudara dan sahabat kamu. Kamu bisa cerita apa saja sama kami, kami ga mau kamu sedih lagi!” Rafael menuturkan idenya. “menurut gw itu tawaran yang bagus Lis! Gw sebagai sahabat lo juga ga mau liat keadaan lo begini terus!” Tisa mencoba meyakinkan aku atas tawaran Rafael tadi. “Apa lo semua yakin?” tanyaku ragu. “Aku yakin 100 %!” jawab Morgan , “Aku juga!” Sahut Rafael , “Kami juga!” sambung Bisma diiringi anggukan kepala dari Dicky, Reza, Rangga, dan Ilham. “terima kasih teman-teman…!” kataku sambil tersenyum. Perasaanku agag lega dan plong bisa melepaskan semua hal yang selama ini kupendam. Rangga, Rafael, Bisma, Morgan, Dicky, Ilham, Reza, dan Tisa memelukku dan kami pun tertawa bersama.
nyobanyoba nulis cerpen ehh kebetulan idenya datang dari boyband yang lagi heboh di bicarain di infotaiment,, yaa SM*SH ... heheee
this just fiksi (khayalan tingkat tinggi ...)dan kalian harus tahu gw bukan fangirlnya SM*SH ,, gw cuma ada di posisi netral ..