Bible says :

Jumat, 11 Januari 2013

Untilted ( just writing )


Setiap pagi dari balik kaca kantor , aku selalu menanti –nanti saat dia lewat. Dengan gayanya yang biasa namun mempesona dan senyumnya yang manis membuat aku selalu ingin melihat dia. Tak peduli ocehan teman-teman sekantorku , aku hanya ingin mengaguminya. Sayang , aku tak memiliki cukup keberanian untuk bisa menyapanya. Aku selalu saja gugup dan kehabisan kata saat melihat dia. Sudah berkali-kali kesempatan untuk menyapanya saat dia lewat di depan kantorku berakhir sia-sia. Dan aku hanya bisa menyesalinya.

Aku masih beruntung , karena kebaikan temanku aku bisa berkenalan dengannya. Rasyid, ya itu namanya. Dengan tangan dingin , wajah pucat pasi , suara bergetar ku sebut namaku , Hanum. Mungkin saat itu adalah saat terindah dan terburuk yang pernah kualami.

Rasa kagumku terus membara. Meski tak pernah berani memanggil namanya aku terus menanti kehadirannya, setiap pagi , setiap siang , dan setiap malam. Aku hanya berharap akan ada sebuah keajaiban untukku bisa mengenalnya lebih dekat lagi.

Bagai tersambar petir disiang bolong , saat temanku menelponku dan berkata bahwa dia melihat Rasyid berbelanja dengan seorang perempuan di sebuah pasar swalayan. Aku segera bangkit dari kursiku dan berlari menuju pasar swalayan yang kebetulan letaknya tak jauh dari kantorku. Aku hanya ingin sekedar memastikan bahwa temanku sedang tidak berbohong. Entah bagaimana caranya melukiskan perasaanku saat aku menyaksikan pemandangan itu di depan mataku. Aku hanya berharap perempuan itu bukan kekasihnya apalagi istrinya.

Hari berganti bulan , dan waktu terus beranjak namun tak jua kulihat dirinya berjalan di koridor seperti biasanya. Kucoba mencari tahu keberadaan dirinya melalui temanku. Dan ternyata dia pindah ke kota lain, sedih rasanya.

Menanti dan terus berharap kamu kan kembali ke Jakarta. Sampai waktu itu tiba , aku bahagia tak berujung. Ritual setiap hariku kembali seperti beberapa bulan sebelum kepergiannya ke kota lain. Menunggu kehadirannya dan mengaguminya.

Yaa , hanya mengagumi dirinya lewat balik kaca, lalu berkhayal luas tentang dirinya. Aarrgghh rasanya itu sudah cukup membuat jantungku berdegup kencang bagai naik jet coster. Saat imajinasiku larut dalam cerita indah tentangnya aku tersenyum sendiri, dan saat imajinasiku bermain dalam cerita terburuk denganya aku sedih. Terkesan berlebihan memang, tapi itulah aku. Entah sampai kapan aku bisa mengakhiri ini semua dan berbalik pada kenyataan?

Tuhan aku ingin mengenalnya, bukan hanya sekedar mengaguminya. Aku ingin menghadirkannya dalam hidupku, bukan hanya sekedar tokoh utama dalam imajinasiku. Aku ingin menyapanya dan tersenyum padanya, bukan hanya sekedar menyebut namanya dalam hatiku. Tuhan bantu aku untuk mengakhiri rasa penasaranku ini. Amin

Note : @rachmawatiayuu is my inspiration of this story ..

Selasa, 25 Desember 2012

Merry Christmas

So this is Christmas
And what have you done?
Another year over
And a new one just begun

And so this is Christmas

I hope you have fun
The near and the dear one
The old and the young

A very merry Christmas

And a happy New Year
Let's hope it's a good one
Without any fear

And so this is Christmas

For weak and for strong
For rich and the poor ones
The world is so wrong

And so happy Christmas

For black and for white
For yellow and red ones
Let's stop all the fight

A very merry Christmas

And a happy New Year
Let's hope it's a good one
Without any fear

And so this is Christmas

And what have we done?
Another year over
And a new one just begun

Ans so this is Christmas

I hope you have fun
The near and the dear one
The old and the young

A very merry Christmas

And a happy New Year
Let's hope it's a good one
Without any fear

War is over over

If you want it
War is over
Now

_John Lennon_




Merry Christmas and Happy New Year 
from me and family

may the spirit of Love , the beauty of Hope , and the blessing Peace , be your gift for this Christmas.

Jesus Bless you all :)

Rabu, 20 Juni 2012

rasa apa ini ?

rasa apa ini ? *shit* mungkin ini cinta !
aahh aku tak mau bermain - main dengan rasa cinta yang semu .
semu ? yaa ini semu ..
karena aku jatuh cinta pada teman ku di masa lalu , yang kini menjadi sahabatku.
matanya yang dulu pernah buat hatiku bergetar tak karuan , tak pernah berubah sampai saat ini.
senyumnya yang dulu selalu buat aku terlena , juga masih sama sampai saat ini.
perhatiannya padaku yang dulu kupikir semu , kini aku malah merasakan begitu nyata.
aahh kenapa harus dia yang kembali membuat aku memiliki perasaan ini ?
kenapa harus dia yang selalu ada saat aku butuh tempat cerita dan berbagi ?
kenapa harus dia Tuhan ?
dia yang kini terlanjur menjadi sahabat dan abang bagiku , 
dia yang tak mungkin aku sentuh cintanya karena berbagai alasan ,


sepertinya lebih baik aku simpan saja perasaanku ini , 
karena ini perasaan yang semu.
takkan ku biarkan perasaan semu ini merusak semua hal - hal indah yang telah aku dan dia bina.
meski takkan pernah dia tahu tentang perasaan ini , aku bahagia , asal aku terus bisa bersamanya.
karena terkadang persahabatan itu jauh lebih indah daripada hubungan percintaan.


to you my best friend :)



Kamis, 31 Mei 2012

duapuluhsatu

finnally ,  30 Mei 2012 datang juga .. dan gue pun genap berusia 21 tahun. 
21 tahun usia yang bisa dikategorikan dewasa. hmmm nothing special sih di hari ultah ini , but i'm happy.
Pencapaian yang udah gue raih sejauh ini adalah berhasil lulus kuliah tepat waktu dan berhasil mendapatkan pekerjaan, Just it. not worthy. 
whatever .. tetap bersyukur buat kehidupan yang akhirnya mencapai angka 21 tahun , buat keluarga yang selalu ada sampai saat ini, buat sahabat yang menjadi warna terindah, dan buat semuanya. 
Impian gue di usia 21 ini sederhana , BAHAGIA. Bahagia dalam keluarga, pekerjaan, lingkungan, pertemanan, dan juga percintaan. Bahagia lahir batin. 
Tapi keluarga dan orang orang terdekat gue punya Wish List yang menurut gue berlebihan. Yaa seperti biasa awalnya mereka semua mengucapakan "wish the best for you!" tapi embel-embel belakangnya ga enakin hati ... "cepet dapat jodoh yaa!"  emang umur gue udah krusial banget ya buat ngomongin masalah kawin , nikah , jodoh ,whatevaaahh ... 
apa lagi bokap nyokap gue yang bilang "udah umur 21 ya nang, papa sama mama berharap kamu kenalin kami sama calon mantu. belajar buka hati ya nang !"  truss ditambah adik-adik gue bilang "kaa, gue ga mau tau lo harus punya pacar yaa !!"  
hahahahahhahahaa gue cuma bisa ketawa ajja ,, dalem hati gue agag sedih sih dibilang kaya gitu ..
yaa mau gimana lagii tohh gue belom nemuin cowo yang pas ...
"mam , pap, bang, dek, doakan saja ya kakak bisa mendapatkan yang terbaik !"
Once more ,, praise the Lord for His bless till now.

Jumat, 18 Mei 2012

Bahagia

Tak perlu miliki kekasih untuk bahagia ..
karena adanya seorang kekasih tak menjamin bahwa hidup akan bahagia.
memang dengan adanya kekasih cukup memeberi warna dalam hidup.

Tak perlu menjadi galau karena single ..
karena single bukan berarti sendiri , bukan berarti tak miliki cinta.
single hanya sebuah pilihan hidup yang harus dijalani dalam masa pencarian cinta sejati.

Ada atau tidak adanya kekasih , bukan menjadi tolak ukur apakah bahagia atau tidak?
Bahagia datang dari dalam hati yang memiliki cinta.
Cinta yang dimaksud bukan hanya sekedar cinta untuk kekasih tapi cinta yang universal , cinta terhadap sesama.

Aku bahagia karena aku memiliki cinta. 
Cinta terhadap diriku sendiri.

Senin, 23 April 2012

Flashback SMA

udah hampir sebulan ga posting di blog , sekarang tampilannya berubah ... waaahh harus belajar lagi niih ... 

yuupsss setelah hampir sebulan gue kelayapan dan ga mampir di blog ini , tiba-tiba pagi ini gue kepikiran mau nulis sesuatu ...

gue mau sedikit flashback ke masa masa SMA dulu ...

7 tahun yang lalu tepatnya tahun 2005 gue resmi menyandang status anak SMA, dan terdaftar secara resmi di SMA N 88 Jakarta.. yang sama sekali bukan sekolah impian gue ...

oke lupakan masalah sekolah impian *skip*
pertama kali gue ga tau apa yang harus gue lakukan di SMA , karena ga ada satupun teman yang gue kenal (setelah ngubek-ngubek ternyata ada juga temen SMP gue) sampailah gue berkenalan dengan POPY teman pertama gue dan jadi temen sebangku gue selama MOS. Selama MOS gue kenalan juga sama anak-anak yang lain , singkat cerita 3 hari MOS gue udah ga linglung lagi karena gue udah punya temen ...

Tiba saatnya pemilihan ekskul , gue super bingung waktu itu.. cuma boleh pilih 2 ekskul , tapi gue pengen banyakkk ... *maruk* akhirnya gue pilih RohKris (wajib) dan gue pilih Paskibra.
Kenapa Paskibra ?? soalnya seniornya cakeepp , ganteng , hahah *ababil* 
Setelah habis masa MOS ada namanya tes Matrikulasi , buat pemilihan 5 siswa yang akan dibina untuk jalur PMDK (walau akhirnya ga berhasil programnya) dan tanpa firasat sedikitpun gue terpilih menjadi salah satu dari 5 siswa itu. Akhirnya gue pun dapat jadwal tambahan belajar. setiap senin - jum'at gue dan 5 siswa dari setiap kelas X lainnya harus datang jam 10 di sekolah untuk mengikuti BinPres ( Bina Prestasi) *ohh ya waktu itu gue masih masuk siang , soalnya sekolahnya 2 shift*

Sebagai ababil saat itu yang baru mengenal dunia SMA , agag keteteran mengikuti pelajaran. Meskipun masuk siang jam 13.00 , gue harus udah di sekolah jam 10.00 buat ikut BinPres, terus lanjut lagi jam 13.00 belajar seperti biasa layaknya anak SMA kelas X. Karena saat itu udah bulan Juli mendekati bulan Agustus dan akan ada upacara 17-an makanya Paskibra latihan buat upacara 17-an. Jadi setiap jam 16.00 semua anak Paskibra yang kelas X mendapatkan dispensasi buat latihan Paskibra. Udah kebayang kan gimana repotnya gue mengejar ketertinggalan pelajaran karena hampir setiap hari harus keluar kelas ninggalin pelajaran demi latihan.
Secara mental gue udah diuji dengan besarnya kewajiban gue belajar ditengah waktu yang ga normal. Secara fisik gue juga diuji, latihan Paskibra dari jam 4 sampe jam 7 selama hari sekolah , ditambah latihan lagi tiap hari minggu dari pagi sampe sore ... 
Tapi untungnya di BinPres temen-temennya asiikk , ga sok pinter walaupun pinter .. jadi selama belajar di BinPres ga ngeBTin. Di kelas juga gitu , sekelas sama anak - anak abnormal , jadi kebahagiaan tersendiri. Latihan Paskibra , meskipun melelahkan dan kadang menyakitkan , karena suka dimarah-marahin sama senior, tapi gue masih bisa enjoy ngejalaninnya .. ya karena ternyata senior - senior gue yang cakep bin ganteng itu juga rada rada abnormal .. jadi setiap break latihan pasti ada canda dan tawa.
kesibukan gue lainnya di sekolah adalah mengikuti kegiatan RohKris, karena ini salah satu ekskul wajib bagi setiap siswa kristen makanya gue mau ga mau harus mau. Awalnya suka males siiih ikut ibadah rohkris , tapi lama- lama asiik juga soalnya setelah gue ikut retreat ternyata disana juga banyak anak - anak abnormalnya ....

*at least kesimpulannya SMA N 88 isinya anak-anak abnormal semua termasuk gue* *skip*

Berkumpul dan bergaul sama orang yang abnormal membuat diri gue sendiri jadi abnormal juga .. tapi menjalani hari - hari sebagai anak SMA yang abnormal , menjadi kebahagiaan tersendiri yang takkan pernah tergantikan ...

Setahun kemudian , tepatnya tahun 2006 , gue naik kelas *huraaayy* dan akhirnya gue masuk kelas IA (Ilmu Alam) ga sia - sia gue belajar terus sampe akhirnya berhasil masuk kelas IA. Gue bangga akhirnya bisa nunjukin ke ortu gue kalo gue mampu menyeimbangkan antara belajar dan ekskul. Karena selama ini ortu gue especially bokap gue , meragukan kalo gue tetep bisa konsen sama pelajaran di tengah sibuk latihan paskib. Ternyata gue mampu kan .. !!! *tertawa bangga* Menjalani hari - hari baru sebagai senior , tapi masih punya senior , ga selalu nikmat. Statement dari guru yang negjudge anak IA itu adalah anak-anak yang terpilih dan pintar *padahal mah biasa ajja* selalu jadi beban buat anak IA. tapi emang dasarnya udah abnormal yaa bodo amat sama statement gituan. Masih di Paskibra, yaa gue masih bertahan di paskibra , ga kaya SMP yang tiap tiga bulan sekali ganti ekskul karena bosenn. Kalo dulu gue yang dapet dispensasi buat latihan , tapi karena gue udah senior gue dan angkatan gue laahh yang mengurus masalah dispensasi buat junior gue. Angkatan gue jadi panitia buat 17-an , jadilah dari pagi sekolah , pulang sekolah ngurus persiapan buat latihan , jam 4 udah latihan paskibra, pulang malam. Belum lagi masalah PR dan sebagainya, yaa resiko .. After that , gue juga jadi panitia retreat, apess gue harus pulang sore terus dari sekolah , ngurus segala proposal yang selalu di tolak.

Lagi dan lagi fisik dan mental diuji secara bersamaan. Keseriusan gue dituntut disini , bokap gue yang selalu bawel bin cerewet, selalu  ajj ngomel setiap gue sibuk sama kegiatan ekskul gue. Sampe ada ultimatum *lebayy* kalo nilai gue ada yang turun , gue ga boleh ikut kegiatan apapun diluar sekolah. Lagi dan lagi , gue buktiin gue bisa jaga nilai gue.

sebenernya siih gue bukan anak pintar atau IQ diatas rata-rata. gue biasa ajj , pintar ga , bego juga ga, ya rata-rata laahh .. kalo gue malas dan lengah gue bisa jadi murid paling bodoh di seantero bumi *oke lebayy lagii*  jadi gue harus perlu kerja keras dan belajar extra biar nilai gue stabil. yaa kalaupun harus remedial berkali-kali dan belajar tambahan gue jabanin asal rapot gue aman. Bersyukur gue punya teman yang pinternya keterlaluan, jadi bisa gue manfaatin buat ngajarin gue, (daripada bayar les mahal) gue juga punya temen yang hobinya belajar , jadi suka malu ajj kalo dia belajar gue ga. Temen sebangku gue juga lumayan pintar , ya gue juga ga mau kalah donnk .. meskipun secara mental udah pada ga waras , yaa kita masih pada punya motivasi buat belajar laah walaupun kepaksaa. Dikelas XI IA a , bisa dibilang kompak. Kompak dalam artian , satu ga kerjain PR ga kerjain semua. *plaakkk* selain anak - anak kelas gue yang lenye lenye tapi kadang pinter dan rajin belajar , senior di paskib juga rohkris selalu kasih motivasi buat belajar dan belajar. kata-kata yang gue inget dari semua senior yang pernah kasih petuah ke gue yaitu "Kita harus bertanggung jawab sama pilihan kita sendiri, dan harus tunjukkin ke semua orang kalau kita itu mampu jalanin pilihan kita!

Selama satu tahun perjalanan gue di kelas XI , bisa dikatakan gue "super sibuk" segala macam kegiatan gue jalanin,

Paskibra , kegiatan yang paling menyita perhatian gue. Dari segala macam permasalahannya yang kayanya ga abis-abis , sampai ke jadwal latihan yang cukup padat setiap menjelang even ataupun lomba.

Rohkris , karena beberapa even RohKris hampir bersamaan dengan even Paskib jadi yaa cukup membuat gue keteteran ngatur jadwal. Kadang jadwal rapat yang bersamaan bikin gue harus pusiingg.

Jurnalistik , ga terlalu sibuk , karena jarang ngumpul , kegiatannya bikin liputan dan segala macam tulisan bisa dikerjain pas jam santai atau dirumah jadi ga bikin capee..

dan walaupun gue bukan OSIS , gue ikut jadi panitia PENSI sekolah gue , oke ini juga bikin gue dimarahin bokap gue karena selalu pulang diluar jam normal anak sekolah. 
Tapi gue gag pernah nyesel, even slalu kena omel bokap nyokap , gue bahagia sama pilihan gue. Karena itu semua bikin gue jadi ga minder lagi, dan bikin gue punya banyak temen , pengalaman , dan cerita. *ahaaayy*

selain sibuk sama sekolah dan ekskul gue , gue juga ketularan virus jejepangan dari sindy a.k.a chika juga si thatha. Jadilah gue sering pulang malam gara-gara ikutan acara jejepangan ituu.. *alhasil kena omel lagi*

Okee hidup gue yang selalu diceramahin sama ortu gue selama kelas XI CLOSE.
berlanjut di tahun berikutnya , 2007 ...

gue masih dikasih kesempatan buat ngerasain bahagianya naik kelas .. hmmm pertempuran dimulai. Naik kelas XII berarti udah siap buat ngehadepin UN ..
segala macam kegiatan yang selama ini menyibukkan gue, harus segera ditinggalkan. Karena ga bisa meninggalkan semuanya begitu saja , ya dikurangilah sedikit demi sedikit.
Kalau waktu kelas XI sering pulang telat karena ini itu , kelas XII sering pulang sore karena harus PM dulu , kadang ditambah belajar kelompok dulu. Yaa biasalaahh kalau kelas XII udah disibukkan dengan jadwal belajar ekstra. Dan biasanya kalo udah kelas XII , apalagi mendekati UN , udah pada taubat dan ga main-main lagi. Belajar deehh yang bener ,, banyak banyak doa, kurangin main dan jangan buat kasus. 
Tapi kadang belajar ekstra juga bikin stress , naahh buat ngehilangin stress biasanya gue sama anak-anak sekelas main permainan masa kecil di jam istirahat, kaya domikado, ampar-ampar pisang , ada juga yang main kartu , atau baca komik. yaa apapun dilakukan untuk melepas penat. Meskipun banyak masalah yang menguji *alaahh* dan terlalu banyak hal yang bikin anak-anak di kelas bikin kubu dan selalu berantem , tapi tetep ajj menjelang UN kompak lagii..

TryOut , TryOut , TryOut , cuma itu yang bikin sibuk sampai menjelang UN.

Tepat bulan April 2008 , gue dan seluruh siswa kelas XII SMA se-Indonesia saat itu mengikuti UN selama 3 hari dengan 6 mata pelajaran. 
Puji Tuhan perjuangan ga sia - sia , penantian selama satu bulan lebih , hasil UN keluar juga , dan gue pun LULUS.
usai sudah segala kewajiban gue sebagai siswa SMA, dan gue bakal jadi Mahasiswa. 

setiap langkah gue selama menyandang status siswa SMA , baik itu positif ataupun negatif menjadi langkah awal gue dalam menjalani kehidupan kini.
Dan setiap cerita yang terjadi di masa SMA , membuat gue merindukan kembali masa-masa itu. 

masih banyak yang belum tertuliskan disini , tapi selalu tertulis di memori.

"Nikmati masa mudamu dengan hal-hal yang positif dan membahagiakan"


Elisabet Ayu Kartini

Sabtu, 17 Maret 2012

pertama dan terakhir

Setahun yang lalu di taman ini aku tak sengaja bertemu dengannya. Tepat pukul 07.30 setiap hari kerja aku bertemu dengannya. Senyumnya yang manis membuat aku mengaguminya, sampai kini setahun berlalu aku masih mengaguminya tanpa sekalipun berani menyapanya dan berkenalan.

Hari ini seperti biasa tepat jam 7.30 aku sudah sampai di taman ini, tapi wajah manisnya belum terlihat. “mungkin dia terlambat!” gumamku sambil duduk di bangku taman bermaksud menunggunya. Sudah 20 menit berlalu belum juga ada tanda-tanda kehadirannya. “Aah mungkin aku yang terlambat!” gumamku seraya aku bergegas meninggalkan taman. Kantorku terletak tepat di seberang taman, sebelum aku menyebrang aku sempat melihat sekeliling taman berharap dirinya ada disini. Dengan setengah berlari aku bergegas menyebrang jalan. Tiba-tiba dari arah kananku mobil melaju dengan kecepatan tinggi, aku kehilangan keseimbangan.

Kepalaku masih sakit saat aku terbangun dari tidurku. Oh tidak aku bukan tertidur, tapi aku pingsan dan aku sekarang ada di rumah sakit. Tangan dan kakiku sudah penuh perban, badanku rasanya sakit semua, aku mencoba melihat sekeliling, mencari seseorang yang bisa kutanya. “jangan dulu terlalu banyak bergerak mba!” suara lelaki secara tiba tiba mengejutkanku. “Mbak tadi terserempet mobil sampai jatuh pingsan. Kata dokter mbak harus banyak istirahat dulu, belum boleh banyak bergerak!” lanjutnya. Lelaki itu sepertinya aku kenal, ya dia lelaki yang aku tunggu setiap pagi ternyata dia yang menolongku dan membawaku ke rumah sakit. “Maas siapa?” tanyaku terbata – bata sambil menahan sakit. “Saya Ragil mbak, kantor kita berdekatan!”. “Mas Ragil gag kerja? Koq masih disini?” “Saya kan yang membawa mbak kesini jadi saya harus disini sampai keluarga mbak ada yang datang!” “Tas saya dimana ?” “Hmmm maaf mbak tadi saya buru-buru membawa mbak kesini, saya gag bawa tas mbak. Begitu sampai disini saya baru ingat lalu saya segera kembali kesana tapi tas mbak sudah ga ada dan tak satupun orang disana yang tahu. Maaf mbak!” jelasnya dengan wajah bersalah. “Saya hanya bisa menunggu mbak sampai sadar biar saya bisa menghubungi keluarga mbak!” “Berapa mbak nomor keluarga mbak?” tanyanya sambil mengeluarkan HPnya. “Keluarga saya di luar kota, cukup hubungi kantor saya saja!” jawabku. “Nomor teleponnya berapa?” “Saya lupa mas!” jawabku malu. “Kalau begitu saya ke kantor mbak saja. Bagaimana?” “Sepertinya itu ide bagus!” “Saya harus bertemu siapa disana mbak?” “Mas Ragil cari yang namanya Radita, bilang sama dia saya disini! Nama saya Wanda.” “OK mbak Wanda, saya tinggal dulu ya!” pamitnya  “Terima kasih mas!”

Satu jam kemudian Radita sahabatku datang menemaniku. “Wanda, kamu koq bisa celaka begini?” tanya Radita begitu melihatku. “Aku juga ga tau Dit.” Jawabku asal sambil melihat ke arah pintu. “Dit, Mas Ragil mana?” tanyaku. “Mas Ragil siapa Wan?” tanya Radita heran. “Kamu tau dari siapa aku disini? Dari mas Ragil kan?” “Aku tahu dari Pak Bayu, tukang siomay langganan kita!” “Hah , kamu serius? Mas Ragil itu yang nolong aku!” “Iya aku serius. Masa aku bohong sih? Tadi tuh aku ga liat kamu di kantor, aku coba telpon hp kamu, gag aktif. Aku tanyain satu kantor gag ada yang tahu. Aku coba keluar ke siomay pak Bayu, siapa tahu kamu disana. Pak Bayu bilang kalau tadi abis ada kecelakaan di depan kantor. Korbannya satu cewe satu cowo, dan pak Bayu bilang korban cewenya mirip kamu. Denger kaya gitu aku langsung cari kamu!” “Jadi kamu ga ketemu mas Ragil?” “Gag Wanda!”

Aku bingung, terus bertanya dalam hati kemana perginya mas Ragil? Sejak dia pamit untuk memanggil Radita dia tak kembali lagi. Dokter mengizinkan aku pulang hari ini juga. Dengan dibantu Radita aku mengurus administrasi Rumah Sakit. Rasa penasaranku terhadap sosok Ragil sangat besar, memaksa aku mencari tahu keberadaanya. “Suster, orang yang tadi mengantar saya kesini dimana ya?” tanyaku penasaran. “Tadi yang mengantar banyak mbak dan sudah pada pulang semua!” “Tadi ada satu orang yang jagain saya sampai saya sadar sus, dia bilang mau pergi sebentar tapi gag kembali juga. Saya mau bilang terima kasih sama dia sus!” “Maaf mbak saya gag melihat siapapun yang menunggu mbak, saya hanya melihat mbak ini!” jawab suster sambil menunjuk Radita. “Tapi tadi dia ada koq! Namanya Ragil sus!” kataku yakin. “Ragil ?” tanya suster ragu. “iya, suster tau?” “Hmmm yang saya tahu korban tabrakan tadi pagi selain mbak namanya Ragil mbak!” jelas suster itu. “Apa sus?” aku tak percaya mendengar penjelasan suster itu. “Terus keadaannya bagaimana sus?” kali ini Radita yang bertanya. “Keadaannya masih kritis mbak, dan belum ada pihak keluarga yang datang. Kasihan dia mbak, padahal dia harus menjalani operasi.” “Suster, boleh kami melihat dia?” pamitku. “Silahkan mbak!” Aku dan Radita mengikuti langkah suster menuju sebuah kamar. Kakiku terasa lemas tak berdaya saat yang aku lihat di depan mataku adalah Ragil yang aku maksud. Tak terasa air mata meleleh, membasahi pipiku, aku tak mampu mempercayai apa yang aku lihat. Radita membantu aku untuk duduk di samping Ragil. Melihat keadaannya yang sangat kritis membuat aku tak mampu berkata-kata, aku tak tahu harus berbuat apa, perasaanku limbung. “Tuhan, tolong berikan sebuah muzizat untuknya.” doaku dalam hati. Tak lama selesai aku berdoa untuknya, tangannya sedikit bergerak. Aku sangat senang sekali. Radita langsung memanggil dokter. Dokter bersama para suster segera menangani Ragil, aku dan Radita hanya menunggu di depan pintu sambil berdoa penuh harap. Saat dokter keluar, dengan segera aku berdiri meski kakiku masih sangat sakit “Dok, bagaimana ?” tanyaku harap – harap cemas. “Maaf, kami telah berusaha sekuat mungkin tapi Tuhan berkata lain. Sebaiknya anda segera menghubungi keluarganya, karena nyawanya sudah tak tertolong lagi!” jawab dokter sambil menepuk-nepuk bahuku seolah memberiku kekuatan. Aku tak kuasa menahan tangisku, perlahan aku dekati dia, dengan setengah berbisik aku berkata “Terima kasih mas Ragil!”.

Aku tak percaya perkenalanku dengannya harus dengan cara yang tragis seperti ini. Selama satu tahun aku mengaguminya, menunggunya di taman setiap pagi, memandanginya dari jauh, tanpa pernah berani membalas senyumannya apalagi berkenalan. Aku merasa terkejut bercampur bahagia saat tersadar dari pingsanku, aku melihat dia. Tapi ternyata itu hanya sebuah ilusi atau khayalan yang sangat nyata aku rasakan. Ku dengar dari beberapa saksi kecelakaan pagi itu, sebelum mobil itu menyerempetku mas Ragil berteriak padaku, tapi aku tak mendengar. Saat mobil itu hampir mendekatiku mas Ragil mendorongku, belum sempat mas Ragil berlari mobil itu menabrak mas Ragil hingga terpental jauh. Aku merasa sangat bersalah, seharusnya aku yang tertabrak dan mati, bukan mas Ragil. Aku menyesal kenapa pagi itu aku tak sabar sebentar lagi untuk menunggunya datang, kalau saja aku bisa bersabar mungkin ini takkan pernah terjadi. Seberapa besar rasa penyesalanku, aku takkan mampu mengembalikan keadaan seperti semula.