Setiap pagi dari balik kaca
kantor , aku selalu menanti –nanti saat dia lewat. Dengan gayanya yang biasa
namun mempesona dan senyumnya yang manis membuat aku selalu ingin melihat dia. Tak
peduli ocehan teman-teman sekantorku , aku hanya ingin mengaguminya. Sayang ,
aku tak memiliki cukup keberanian untuk bisa menyapanya. Aku selalu saja gugup
dan kehabisan kata saat melihat dia. Sudah berkali-kali kesempatan untuk
menyapanya saat dia lewat di depan kantorku berakhir sia-sia. Dan aku hanya
bisa menyesalinya.
Aku masih beruntung , karena
kebaikan temanku aku bisa berkenalan dengannya. Rasyid, ya itu namanya. Dengan
tangan dingin , wajah pucat pasi , suara bergetar ku sebut namaku , Hanum.
Mungkin saat itu adalah saat terindah dan terburuk yang pernah kualami.
Rasa kagumku terus membara. Meski
tak pernah berani memanggil namanya aku terus menanti kehadirannya, setiap pagi
, setiap siang , dan setiap malam. Aku hanya berharap akan ada sebuah keajaiban
untukku bisa mengenalnya lebih dekat lagi.
Bagai tersambar petir disiang
bolong , saat temanku menelponku dan berkata bahwa dia melihat Rasyid
berbelanja dengan seorang perempuan di sebuah pasar swalayan. Aku segera
bangkit dari kursiku dan berlari menuju pasar swalayan yang kebetulan letaknya
tak jauh dari kantorku. Aku hanya ingin sekedar memastikan bahwa temanku sedang
tidak berbohong. Entah bagaimana caranya melukiskan perasaanku saat aku
menyaksikan pemandangan itu di depan mataku. Aku hanya berharap perempuan itu
bukan kekasihnya apalagi istrinya.
Hari berganti bulan , dan waktu
terus beranjak namun tak jua kulihat dirinya berjalan di koridor seperti
biasanya. Kucoba mencari tahu keberadaan dirinya melalui temanku. Dan ternyata
dia pindah ke kota lain, sedih rasanya.
Menanti dan terus berharap kamu
kan kembali ke Jakarta. Sampai waktu itu tiba , aku bahagia tak berujung.
Ritual setiap hariku kembali seperti beberapa bulan sebelum kepergiannya ke kota
lain. Menunggu kehadirannya dan mengaguminya.
Yaa , hanya mengagumi dirinya
lewat balik kaca, lalu berkhayal luas tentang dirinya. Aarrgghh rasanya itu
sudah cukup membuat jantungku berdegup kencang bagai naik jet coster. Saat imajinasiku
larut dalam cerita indah tentangnya aku tersenyum sendiri, dan saat imajinasiku
bermain dalam cerita terburuk denganya aku sedih. Terkesan berlebihan memang,
tapi itulah aku. Entah sampai kapan aku bisa mengakhiri ini semua dan berbalik
pada kenyataan?
Tuhan aku ingin mengenalnya,
bukan hanya sekedar mengaguminya. Aku ingin menghadirkannya dalam hidupku, bukan
hanya sekedar tokoh utama dalam imajinasiku. Aku ingin menyapanya dan tersenyum
padanya, bukan hanya sekedar menyebut namanya dalam hatiku. Tuhan bantu aku
untuk mengakhiri rasa penasaranku ini. Amin
Note : @rachmawatiayuu is my
inspiration of this story ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar