Bible says :

Jumat, 11 Januari 2013

Untilted ( just writing )


Setiap pagi dari balik kaca kantor , aku selalu menanti –nanti saat dia lewat. Dengan gayanya yang biasa namun mempesona dan senyumnya yang manis membuat aku selalu ingin melihat dia. Tak peduli ocehan teman-teman sekantorku , aku hanya ingin mengaguminya. Sayang , aku tak memiliki cukup keberanian untuk bisa menyapanya. Aku selalu saja gugup dan kehabisan kata saat melihat dia. Sudah berkali-kali kesempatan untuk menyapanya saat dia lewat di depan kantorku berakhir sia-sia. Dan aku hanya bisa menyesalinya.

Aku masih beruntung , karena kebaikan temanku aku bisa berkenalan dengannya. Rasyid, ya itu namanya. Dengan tangan dingin , wajah pucat pasi , suara bergetar ku sebut namaku , Hanum. Mungkin saat itu adalah saat terindah dan terburuk yang pernah kualami.

Rasa kagumku terus membara. Meski tak pernah berani memanggil namanya aku terus menanti kehadirannya, setiap pagi , setiap siang , dan setiap malam. Aku hanya berharap akan ada sebuah keajaiban untukku bisa mengenalnya lebih dekat lagi.

Bagai tersambar petir disiang bolong , saat temanku menelponku dan berkata bahwa dia melihat Rasyid berbelanja dengan seorang perempuan di sebuah pasar swalayan. Aku segera bangkit dari kursiku dan berlari menuju pasar swalayan yang kebetulan letaknya tak jauh dari kantorku. Aku hanya ingin sekedar memastikan bahwa temanku sedang tidak berbohong. Entah bagaimana caranya melukiskan perasaanku saat aku menyaksikan pemandangan itu di depan mataku. Aku hanya berharap perempuan itu bukan kekasihnya apalagi istrinya.

Hari berganti bulan , dan waktu terus beranjak namun tak jua kulihat dirinya berjalan di koridor seperti biasanya. Kucoba mencari tahu keberadaan dirinya melalui temanku. Dan ternyata dia pindah ke kota lain, sedih rasanya.

Menanti dan terus berharap kamu kan kembali ke Jakarta. Sampai waktu itu tiba , aku bahagia tak berujung. Ritual setiap hariku kembali seperti beberapa bulan sebelum kepergiannya ke kota lain. Menunggu kehadirannya dan mengaguminya.

Yaa , hanya mengagumi dirinya lewat balik kaca, lalu berkhayal luas tentang dirinya. Aarrgghh rasanya itu sudah cukup membuat jantungku berdegup kencang bagai naik jet coster. Saat imajinasiku larut dalam cerita indah tentangnya aku tersenyum sendiri, dan saat imajinasiku bermain dalam cerita terburuk denganya aku sedih. Terkesan berlebihan memang, tapi itulah aku. Entah sampai kapan aku bisa mengakhiri ini semua dan berbalik pada kenyataan?

Tuhan aku ingin mengenalnya, bukan hanya sekedar mengaguminya. Aku ingin menghadirkannya dalam hidupku, bukan hanya sekedar tokoh utama dalam imajinasiku. Aku ingin menyapanya dan tersenyum padanya, bukan hanya sekedar menyebut namanya dalam hatiku. Tuhan bantu aku untuk mengakhiri rasa penasaranku ini. Amin

Note : @rachmawatiayuu is my inspiration of this story ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar